by Dian Aza on Wednesday, April 27, 2011 at 12:14am
Lalu aku menjadi buih, menjadi tak pasti, melambailambai ke arah langit, mendaki pasang. Salah benar salah benar timbul tenggelam. Menjadi buih di lautmu, menjadi buih di kucuran minumanmu. Pesta terus berlangsung, merayakan kedatangan, perang, kemenangan dan kehilangan. Aku belajar menghina kemerdekaan. Gelasmu selalu meruah, berbusabusa, sebuah buih serupa berjuta jeda, singgah tanpa diminta. Menggelembung, mengapung, mengejar jemari kakimu, mengusir butirbutir pasir yang mencoba melekat sebelum mencatat jejak jalanjalan pegunungan atau nyanyian ilalang.
Di mata buih, matahari mewarnai tubuhtubuh, batubatu, dengan warna emas yang mengalir dari sungai bawah tanah. Atas bawah atas bawah jauh dekat. Aku menghitung waktu dari tegukan demi tegukan menelan kedamaian. Kusangka kau masih membacaku di puncak ombak. Aku bersenangsenang, bermainmain kulit kerang kosong yang tak punya kisah. Buih layak menagih pengap udara di geladak kapal ketika layar terlipat, bulan baik pandai berkelit, siapa tahu laut menangis, lalu aku menjadi buih di tiap pelayaran tanpa peta, tanpa pertanda.
Anakanak anjing laut membuka tutup mulutnya, mengantarkan lebih banyak hangat udara di samudra beku, berbongkahbongkah awan sedang liburan di sana, putih mengambang, burungburung berjalan jenaka. Lalu aku masih menjadi buih, berputarputar bersama bulubulu tebal beruang berwarna awan. Buih putih awan putih senyum matahari. Di suatu pagi buta, buih melihat bibir tanah bernyanyi*
Di mata buih, matahari mewarnai tubuhtubuh, batubatu, dengan warna emas yang mengalir dari sungai bawah tanah. Atas bawah atas bawah jauh dekat. Aku menghitung waktu dari tegukan demi tegukan menelan kedamaian. Kusangka kau masih membacaku di puncak ombak. Aku bersenangsenang, bermainmain kulit kerang kosong yang tak punya kisah. Buih layak menagih pengap udara di geladak kapal ketika layar terlipat, bulan baik pandai berkelit, siapa tahu laut menangis, lalu aku menjadi buih di tiap pelayaran tanpa peta, tanpa pertanda.
Anakanak anjing laut membuka tutup mulutnya, mengantarkan lebih banyak hangat udara di samudra beku, berbongkahbongkah awan sedang liburan di sana, putih mengambang, burungburung berjalan jenaka. Lalu aku masih menjadi buih, berputarputar bersama bulubulu tebal beruang berwarna awan. Buih putih awan putih senyum matahari. Di suatu pagi buta, buih melihat bibir tanah bernyanyi*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar