Selasa, 28 Juni 2011

ampas kopi

by Dian Aza on Tuesday, April 26, 2011 at 12:03am
Adakah yang peduli apa yang dipikirkan seorang penggali kuburan. Ketika berada dalam liang lahat, terpikirkah dalam benak mereka apa yang sebenarnya sedang dikerjakan, menggali sebuah liang yang kelak akan dihuni sendiri.  Kubayangkan aku sedang menyiapkan masa depan tak terelak. Kecuali jika aku sejenis orang pelit yang tak rela jasadku dimakan cacing dan belatung. Atau orang gila hormat yang tak sudi bangkainya dipeluk tanah.

Sering aku tidak bekerja sendirian, ada satu dua orang kawan membantu, apakah topik paling seru untuk dibahas agar aku lupa bahwa kelak seorang yang bukan aku akan mengerjakan apa yang kukerjakan, menyiapkan sebuah sarang untuk tubuhku yang sudah kaku, tak bisa mengatakan apapun, tak bisa bergerak, tak bisa apaapa. Apakah kematian sungguh menakutkan, kenapa yang kudengar malah musik gaduh yang biasanya mengalun di jalanjalan kumuh. Lagulagu norak yang menemani segelas kopi berampas, sepiring ketan bertabur kelapa dan kedelai sangrai.

Kulihat para lelaki tua mengenakan baju ibadah, sarung berwarna lembut, kemeja linen licin, lengan panjang dengan bordiran cantik pada kerah model shanghai, sebagian lengkap dengan sorban atau peci, dudukduduk di bangkubangku warung yang bertebaran seputar alunalun di depan mesjid, menikmati uap hangat dengan bibir dan lidah bergerak tanpa henti, seperti tak akan pernah mati. Tak ada seorangpun hendak menyapaku, bahkan tidak sekedar melirik melemparkan pandang. Tentu saja tak seorangpun tahu ada aku di situ, dengan celana katun kelabu, kaos berwarna pudar, dan jaket lusuh yang sudah koyak di bagian lengan dan punggungnya, jaket yang sering kupakai ketika bekerja. Kuamati tubuhtubuh bersih, aroma harum menusuk hidungku. Diamdiam aku mulai mengirangira panjang dan lebar tanah harus kugali jika salah satu tubuhtubuh bagus itu kehilangan nyawa. Mengingat cara mereka bercakapcakap, mengangguk meyakinkan, tertawa santun, saling melemparkan pandang bermakna di antara sesamanya, aku merasa mereka ahli surga semuanya. Apa artinya, tetap saja aku yang akan menyiapkan sarang abadi bagi tubuhtubuh mereka.

Kematian demi kematian memberiku kehidupan, beras dan laukpauk untuk dimasak istriku, bajubaju untuk seisi rumahku, bukubuku dan alat tulis untuk sekoiah anakku. Matahari bergerak pelan mendaki langit lebih tinggi, satu persatu yang ada di situ mengucapkan salam dan berlalu, pemilik warung juga mulai berkemas membereskan segalanya, tak lama orangorang berseragam coklat pucat akan datang membereskan yang masih berserakan. Warna seragam orangorang dalam truk itu mengingatkanku pada warna tanah pada musim kemarau paling kering, saat aku harus bekerja dengan keringat bercucuran dan mata perih kemasukan debu. Debu tak pernah terlihat, hanya terasa panas, gatal dan perih menyentuh mata.

Penggali kubur juga mesti beranjak pulang, biasanya sudah ada seseorang yang menunggu di teras rumahku. Seseorang yang akan mengatakan di mana tepatnya aku mesti menggali pagi ini, berapa panjang dan lebar liang harus kubuat, tentang siapa calon penghuninya tak penting sama sekali, setiap hari pasti ada yang mati.  Kematian hanyalah kewajaran untukku serupa segelas kopi berampas setiap pagi, entah kalau itu kematianku sendiri. Lucu sekali membayangkan aku menggali kuburku sendiri*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar