Selasa, 28 Juni 2011

jalan jalan asing

by Dian Aza on Saturday, April 23, 2011 at 12:11am
Tahuntahun aneh berbaris di jalanan. Dengan baju baja dan senapan cahaya, menciptakan musuhmusuh dari gambargambar yang terinjak. Kulihat kakiku berlarilari memanggil ibu, ayah dan bayibayi. Semuanya hanya tabung, botol, corong, atau patahan alat tulis yang tak berdosa. Tentu saja tak bisa berdoa, doa tak pernah sempurna sebelum disentuh dosa. Jauh dalam dinding tipis bersembunyi gaung terlupakan. Tangantangan mencoba menggali puing untuk menanam tanah. Kau di mana, kau di mana. Pasukan waktu berniat meringkus siapa saja yang masih berkeliaran dalam ingatan, seperti kau, baru saja melintas, tersenyum, melambaikan tangan menggenggam cangkul dan ladang, pundakmu kekar.

Kita pernah menaman jaman berbentuk bunga ke dalam tanah, kemudian menjawab entah setiap kali ditanyai tentang tempat dan waktu memetik. Itu hanya menciptakan sebuah lubang untuk berlindung dari tembakan, melupakan segala yang pernah dikerjakan dengan doa sebelum kenal dosa. Deringdering berteriak nyaring, mengancam akan meledakkan semua tempat yang berani kusembunyikan.

Bait allah terbelah, aku pernah membaca dengan getar yang sungguh mendebarkan kitabkitab tua. Bersama prajurit berpakaian kulit binatang buas, menusuk, menikam, mematahkan bagianbagian tubuh seorang manusia yang meninggalkan wajahnya pada selembar saputangan putih. Perempuan menangis, bayibayi menjerit, lelakilelaki terus mendaki bukit untuk menggenapi nubuat. Aku di sini. Aku di sini, kudengar kau memanggil, tak mendengar kujawab. Lidahku keracunan limbah, berkatakata dengan bahasa tak tahu makna. Kau kembali melewati sekat jantungku, memerahkan hitam darahku. Aku meringkuk, lebih baik disebut pengecut dari pada membiarkan kau pecah dibelah cahaya.

Tunggulah fajar segera datang bersama pasukan hantu, tak bisa dibunuh, kebal ditembak segala senapan. Fajar perkasa pasti berbekal selimut lembut dan daundaun waru, juga pohonpohon cincau hitam untuk meredakan demam. Kau masih sempat membisikkan hiburan sebelum mengenakan baju baja, kembali berbaris di jalanan, memanggul senapan cahaya. Aku tak pernah merasakan pedih ketika kau pecahkan keningku, aku sudah pergi, bersama ingatanmu, kaumencariku, memanggilku madu, madu, aku sembunyi berpindahpindah dari satu putik ke putik lain, sembil mengunyah daundaun hijau muda. Ayah ibuku menggembala sapi, bayibayi menggambar bulan tertawa lebar.

Tanahtanah yang dulu di tanam telah tumbuh jadi taman, di sana kelak akan kupetikkan buahbuah keramat penakluk prajurit berbaju baja, jika saja kau lebih baik menjelaskan makna kepada mata*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar