by Dian Aza on Sunday, April 17, 2011 at 3:43pm
Waktu sering mengataiku berbohong ketika kuceritakan tentangmu. Aku tak mengerti, tapi sederhana saja, waktu tak pernah tahu ada yang serupa kebersamaan kita. Waktu hanya memandang dunia apa adanya, tak memandang dengan cara kita memandang dunia. Waktu tak melihat kita yang sembunyisembunyi mencuri setiap detik untuk saling merengkuh. Aku sembunyi di lenganmu, kau sembunyi di mataku. Bertukar kata dengan hela nafas, udara mondarmandir, melintasi jalanjalan rahasia yang membentang antara denyut jantungmu, kembang susut paruparuku. Aku punya laut, kauberi teluk, kita menanam pohonpohon nyiur yang tumbuh dalam sepuluh detik waktu curian kita, lalu duduk seharian menjilati satu cone es krim yang manisnya tak pernah habis sampai waktu memergoki kita. Saat itu matahari menjelang pamit, salamnya terlalu merona mengarah ke wajah kita hingga waktu membaca jejaknya. Tapi dunia sungguhsungguh telah membutakan mata waktu, hanya pantai sepi, muara penuh sampah, dan bangkai sepasang burung merpati yang terlihat. Waktu bahkan tak tahu kalau sepasang burung merpati itu hanya purapura mati karena tak ingin lagi dijadikan hewan aduan oleh manusiamanusia yang tak macam kita, tak bisa mencuri detikdetik permata*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar