Aku bertanyatanya, apakah nama bisa berduka untuk pemiliknya. Dengan bibir terbelah semua kata terdengar salah, tak bisa lagi kuucap nama jika kau bertanya. Namaku mungkin marah, atau kecewa, sangat, karena kehilangan makna. Sedang aku, sesungguhnya tak tahu di mana nama itu melekat pada tubuhku, mereka juga tak tahu, dan…ahh, itulah sebabnya mereka mengacakacak tubuhku, mereka mencari namaku. Aku tak tahu kenapa, tapi aku sedih, aku sedih, sangat sedih, untuk kaki dan tanganku, untuk dada dan punggungku, untuk kepalaku, paling sedih adalah untuk namaku yang sembunyi, disaat banyak orang memanggil.
Ibuku tak lagi mengenali, tak ada seorangpun mengenaliku, selain sebuah nama yang tercetak di kertaskertas. Apa kertas bisa menuliskan luka, kenapa aku punya dua wajah berbeda, namaku tentu sangat resah, mana aku sebenarnya. Kertaskertas akan lumat sebelum kiamat, namaku retak di tulang pembaca. Aku takut malaikat tak akan mengenaliku pula, serupa kelalaian mereka menjaga namaku. Sekelompok burung nasar terbang di samping pesawat terbang, berteriak parau, ada nama yang ketinggalan pesawat. Hujan turun membasahi kertas, melumat namaku, nikmat*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar