Rabu, 05 Januari 2011

perjalanan

Menyusuri malam sejenak. Hanya untuk beberapa paragraf susunan kata. Aku telah berjanji untuk bercerita. Andai saja aku punya cerita. Apakah pantas menceritakan tentang jalanjalan yang sama, setiap hari mesti ditempuh berkalikali. Seperti menyisir rambut kusut, menghentak kepala dengan rasa bebal. Malam ini bulan hampir bulat. Sinarnya seperti lampu sorot mengikuti putaran roda.

Aku berbisik kepada angin, kenapa mengingatnya terasa begitu sunyi. Angin bernyanyi, lagu yang selalu kudengar, untuk segera kulupakan. Aku tak pernah mencoba menuliskan tentang ini sebelumnya. Harusnya memang tak perlu, nyanyian hanya untuk didengar, mencatatnya akan membuat nadanadanya melekat pada kertas.

Tapi aku telah berjanji. Tak sepadat kemarin, mesjid masih megah menghadang, alunalun berselubung cahaya lampu, mereka duduk di trotoar yang sama, di hadapan meja dan gelasgelas yang sama. Seperti kepala yang sama dengan isi yang diganti tiap hari, asap mengendap, jadi jelaga dalam paruparu waktu. Aku tidak mengeluh, hanya mengedipkan mata mengusir bayangmu.

Bagaimana aku bisa melihat kota, menuliskannya dengan kata, mengirimkan pesan cinta. Semua baikbaik saja. Tak ada hujan atau gerimis malam ini, tapi aku tahu rumput di alunalun pasti masih basah, menyimpan sisa hujan, sejak aku belum mengenal hurufhuruf yang benar untuk menggambarkan bunyi hujan di pundakmu. Aku ingin menceritakan sesuatu yang indah, mungkin malam terlalu kelam, atau malah terlalu dini mengharapkan kisahkisah di mana aku mulai paham, malam hanyalah malam, tak ada yang berkilau, selain matamu.

Jembatan terentang di udara, seperti ada yang kucari di seberang, seperti selembar kartu nama tentangmu, seperti kupukupu, seperti laron, seperti kunangkunang, semua yang gemar merayakan malam di luar jendela, di antara rantingranting  dan desah angin.  Aku tak mengerti bagaimana aku menempuh jalan, tanpa memandang kaki.  Kurasa ada yang duduk di atas setang, tertawatawa, juga memeluk pinggangku dari belakang, duduk di boncengan. Apakah kau diamdiam mengantarku pulang.

Aku bilang, ini lamunan, kalau saja bisa menembus dinding, semua dinding sesungguhnya adalah pintu, tanpa daun pintu, sejenis pintu pada bar di abad silam, selalu bergerak tertiup angin, membuka menutup terdorong tubuh. Ohh, tidak, tidak, aku salah, malam inilah pintu, kaca tebal, tembus pandang , juga pintar. Pintu yang tahu kapan mesti membuka diri saat ada yang hendak datang dan pergi. Ya, yang terakhir lebih tepat, seperti sudah pernah kutuliskan, pintupintu pintar penjaga gedunggedung megah dan penting.

Sudah lima belas menit, sebentar lagi aku sampai di akhir cerita, berhenti di depan pagar, menengok ke langit, malam tetap hening, betapa aku ingin menuliskanmu dengan cara berbeda. Hati itu serupa apa, apakah hitam atau ungu, juga empedu, begitu pahit rindu, pintu yang sebenarnya terbuka oleh dorongan roda sepeda. Aku dan rumah, telah kutepati janjiku, maaf, tak seindah kumau menuliskanmu*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar