Di persimpangan kau selalu menghadang, menyuruhku memejamkan mata sebelum memilih arah. Pernah aku sangat kesal, lalu menggugat, pertanyaan yang sama, sudah bosan untuk ditulis berulang. Tak seperti diammu, merdu. Katakan dengan lagu, katakan dengan lagu. Ada saatnya tubuh berserah pada kaki, ketika semua arah adalah penjuru, kaki memilih jalan, bukan yang licin. Kaki punya ingatan tentang refleksi, mengalirkan darah ke setiap sudut tubuh, butuh kerikil dan batubatu. Mata mungkin lebih pengecut dari kaki. Bukan kaki yang mengeluh ketika terantuk batu, bukan kaki yang menitikkan air mata waktu perih terluka.
Aku masih ingin bertanya pada angin di mana rumahnya, apakah angin pernah rindu dekapan, atau selamanya hanya ada riang, terbang, memainkan rambutmu, lengan bajumu, ujung kemejamu, membisikkan rindu. Angin tak punya mata, selalu sempurna mengantar sejuk. Kuharap mataku masih buta saat berdiri di pesimpangan terakhir, agar tak harus terpejam sebelum memilih arah. Aku ingin kau melihat kau ada, dalam mataku meski buta, hanya kau selalu ada. Melihatmu di segala arah, kaki tak ingin membuat mata menangis.
Matakaki, matahati, matahari*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar