Minggu, 16 Januari 2011

aku tak mau thinkymu (puzzle)

Siang teduh di matamu. Itu salah satu kelebihan yang kaupunya. Salah satu saja, di antara masih banyak yang lain. Jadi sedikit berpikir tentang rangkaian kata ‘salah satu’, kenapa ada kata salah di depan sesuatu yang tak salah sedikitpun. Itu jadi salah satu pertanyaan yang tak akan terjawab kukira. Betapa banyak pertanyaan yang tak terjawab sepanjang hidup. Apa salahnya kata satu, aku tak tahu.

Kita adalah satusatunya di dunia yang pantas saling mencinta. Kita dua, tapi satu, itulah cinta, tak ada yang salah. Kau menyukai boneka, satusatunya lelaki yang punya boneka kesayangan yang kaubawa ke manamana. Anjing kecil, telinganya panjang, punggungnya coklat, dadanya putih, kaunamai Thingky. Salah satu benda yang membuatku cemburu, selain buku, dan seperangkat komputer. Kau mengajaknya bicara, mendekapnya, memeluknya, membawanya ke manamana. Kau tak malu jika temantemanmu melihat kau bersamanya, padahal aku merasa kau kadangkadang malu jika ketahuan sedang bersamaku. Kurasa cemburuku sudah pada tempatnya.

“Ini cuma boneka, kau sendiri yang selalu katakan itu.”

“Tapi kau sayang padanya.”

“Kau pikir begitu.”

“Apa aku salah ?”

“Salah apa ?”

“Hahh..”

Aku masih tetap berpendapat kita adalah sepasang kekasih paling hebat, dengan semua perdebatan tanpa kata sepakat, dengan segenap pertanyaan tak terjawab. Siang teduh di matamu selalu mampu meredakan semua gerah. Kita bisa menyusuri jalan mana saja tanpa tujuan sambil tertawatawa. Kita bisa makan di mana saja tanpa peduli menu yang bisa dipilih. Kita bisa begitu tak peduli pada segala hal, kecuali satu sama lain. Kita termasuk sekelompok manusia yang bisa dengan bangga berkata bahwa dunia milik kita berdua. Ungkapan yang terlalu klise dan biasa, tapi coba saja katakan itu sambil menatap matamu, aku bisa melihat seluruh dongeng jadi nyata di sana. Bahkan di saatsaat tertentu kita bisa melupakan anjing kecil pemikir yang sedang termenung dalam ranselmu.

Hari itu mendung amat pekat, kita bertengkar, kau meninggalkan aku dengan hati retak. Membawa siang teduh di matamu berlalu. Tak lama hujan menangis untukku, lama dan seakan tak akan pernah reda. Semua lembab dan basah, hingga kuputuskan menyejukkan diri di bawah guyuran air dingin dalam kamar mandi. Aku menggigil, lebih karena pilu di hatiku, dingin pada tulangku nyaris tak berarti. Tanpa bercermin aku bergegas mengenakan baju hangat, keluar menembus gerimis. Aku harus menemuimu, mengatakan kalau aku tak akan pernah bisa membencimu, dengan alasan apaun. Tak akan pernah bisa kehilangan siang teduh di matamu, betapapun  dinginnya cuaca di malammalam musim hujan. Kau tak ada di tempat.

Aku melangkah lemah, tak tahu arah. Tanpa sadar sudah berdiri mengantri karcis di bioskop di mana kita biasa menghabiskan banyak waktu bersama. Aku merasa melihat diriku pada seorang gadis yang sedang duduk di sudut, menunggu kekasihnya mengantri beli karcis dengan mata berbinar yang tak pernah lepas dari sosok yang paling disayangi. Seandainya aku bersikap lebih baik padamu, tentu aku sungguhsungguh akan jadi serupa gadis itu, duduk dangan nyaman dan bahagia, biasanya malah sambil makan es krim, bukannya berdiri mengantri dengan hati pedih. Entah kenapa, tadinya kusangka akan kutemukan kau di sini,tapi kau tak ada. Aku menangis sepanjang cerita, tanpa suara.

Berlari pulang secepatnya begitu film usai, perjalanan panjang di bawah gerimis, terasa begitu sunyi dan dingin.

Seperti mimpi kulihat kau duduk di teras, masih dengan raincoat dan ransel siang tadi, tentu saja masih dengan teduh di matamu. Aku sangat ingin menangis dan tertawa dalam satu waktu. Kau bilang kau sudah menunggu lama, seusai pertunjukan jam pertama kau langsung kemari lagi, menungguku selesai menonton film yang sama di jam berikutnya. Satu cerita, dua waktu yang berbeda memisahkan kita sebentar. Syukurlah hanya sebentar. Lagipula kita masih punya satu cerita yang sama, siang teduh di matamu terasa sungguh hangat menggenggam tanganku.

Kau melepaskan raincoatmu, membuka ranselmu, mengambil Thingky kesayanganmu, kauulurkan padaku. Aku sedikit terkejut dan bingung. Aku hanya bisa menatapnya, tak tahu harus diam atau menerimanya.

“Untukmu.”

“Kenapa ?”

“Aku titip. Kalau aku tak ada lagi, dia bisa temani kau. Ingatkan tentangku untukmu, kau mau kan mengingatku selalu.”

“Kau akan pergi kemana ?”

“Tak ke manamana.”

“Tapi kau bilang kalau kau tak ada, kau mau meninggalkanku?”

“Aku bilang kalau aku tak ada, dia akan mengingatkanmu padaku, kau mau kan. Nihh..” Kau letakkan anjing kecil kesayanganmu itu di telapak tanganku.

“Aku tak mau. Aku tak mau kau pergi. Aku tak mau Thingkymu.”

“Kenapa, kau tak percaya padaku?”

“Aku tak mau kau pergi.”

“Aku tak akan pergi, tapi ambillah Thingky untukmu. Aku titip, hanya untuk jagajaga saja. Apa kau tak mau mengingatku kalau aku tak ada ?”

“Aku tak mau Thingkymu, aku mau kau selalu ada.”

“Kau tak dengar katakataku, tak percaya padaku, tak mau mengingatku kalau aku tak ada.”

“Aku tak mau kau pergi, aku mau kau selalu ada. Aku tak mau Thingkymu.” Mataku mulai panas, terasa ada yang mengalir di pipiku. Hangat dan lembut, kau menatap dengan siang teduh di matamu, ada basah dan bias pelangi di situ.

“Kau takut kehilangan aku, betapa sakitnya aku tahu itu. Kau tak mendengar katakataku, tak percaya padaku, tak ingin mengingatku selalu.”

“Bukan begitu, kau tahu aku tak begitu, tapi… Maafkan aku. Maafkan aku.”

“Tak apaapa.” Kau memelukku, aku meninggalkan bercak basah di kemejamu. Kau menjatuhkan gerimis di rambutku.

Salah satu hal yang tak bisa kulupakan tentang kau, adalah siang di matamu yang selalu teduh. Masih ada banyak yang lain, yang sungguh benar, aku kekasih yang dungu, yang selalu membuatmu sedih dengan keraguanku, kekasih yang pengecut dan takut terluka demi mengingatmu. Maafkan aku.  Maafkan aku. Maafkan aku menolak Thingkymu. Maafkan aku.

Aku masih tetap berpendapat, kita adalah sepasang kekasih paling hebat di dunia. Dan aku semakin tahu, betapa banyaknya yang tak terjawab sepanjang hidup*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar