Tak pernah kuduga dari sebuah celah sesempit jarak antara bola mata dan tulang hidung, terpahat ngarai. Tak berhenti menjeram badai. Kau pasir, batubatu atau arus sungai. Menghanyut, tak sempat takut. Aku kehilangan banyak kata dalam setiap putaran. Tak berhenti menenggak, bunyi gemerincing bajubaju zarah di tanggalkan. Pasukan iblis baru pulang dari lembah peperangan, terluka dan berdarahdarah. Serpihan sayap malaikat di keningku, aroma mesiu. Pertemputan sudah tuntas, tinggal seonggok ampas, belek di ujung mata, kotoran hidung dekat bibirku, jejak nanah di pipi. Tak ada yang tahu, surga atau neraka yang masih kokoh di puncak mimpi. Pun aku, tak ingat pada putaran keberapa jatuh tersungkur. Tak kudengar tuak merengek memohon sajak*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar