Senin, 10 Januari 2011

buat malaikat

Mungkin aku terlalu percaya diri, takabur atau tinggi hati, ketika kubilang aku selalu menulis hanya buat malaikat. Dengan atau tanpa sayap, malaikat tetap malaikat, tak pernah pakai otak. Itulah malaikat, kerjanya melakukan titah, menjalankan perintah. Aku hanya menulis buat malaikat, yang tak hendak baca tulisanku tanpa perintah penciptanya. Tak akan berkata suka kalau bukan titah tuhan. Andai aku tahu, tuhan pasti tahu, betapa malaikat sering membaca tulisanku diamdiam, tak berani meninggalkan jejak. Yang bukan malaikat, tentu boleh baca tulisanku, saat aku mati, saat aku tak bisa menulis lagi, tak bisa bilang terima kasih atau menanggapi katakata manusia. Manusia yang bisa baca, tak perlu diperintah sesiapa untuk katakan suka, tak butuh titah penciptanya untuk menuliskan kesan, manusia  berotak dan berakal budi, yang hatinya sudah kucuri dan kubaca selalu, kujadikan bahan tulisanku, juga tanpa perintah dan ijin siapasiapa. Aku menusia, mencoba menulis tentang manusia, aku. Untuk kaubaca diamdiam, tanpa menunggu perintah tuhan, wahai malaikat. 

Aku akan berdoa, semoga tuhan yang maha baik tak marah padamu, garagara kaubaca tulisanku*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar