Matahari selalu kembali,
bukan untuk menepati janji, hanya
demi sebuah pagi, mungkin jadi puisi.
Sesungging senyum, setiitik embun, berlalu
datang dan hilang dari satu sentuhan, bulan
kauselipkan sebelum tenggelam.
Entah menjelma kupukupu, camar,
burung dara, layanglayang atau
pesawat terbang, suaranya satu, menderu
rindu dari jantungmu*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar