Rabu, 05 Januari 2011

jika

Ada yang berserak pagi ini, seperti jejak, menulis sajak. Bukan kehendak untuk menatap dari arah mana datang, mungkin cuma bisa menebak ke mana akan hilang. Temboktembok dibangun untuk mengurung atau menjaga kota, selalu sekat. Tak pernah kudengar serangga bisa tersesat. Tak butuh kompas. Kadal dan cicak juga mahir memanjat. Kecil itu indah. Partikel tubuhmu yang dikirim angin, menusuk mata. Menggali mataair di sana. Mengalir, sebening embun.

Bukan! Aku hanya merasa tidak mengerti, pada lolongan malam yang mengantarkan terang, atau sebuah buku dan deretan pohon yang berlarilari di sepanjang mimpi. Aku memutarmutar crayon di punggung kertas, menggambar jejakmu yang melingkar. Tanpa angka, tanpa kata, kau telah terbenam makin dalam, membuta mata, menatap pagi pada sekeping hati, jika belum mati. Jika bukan remah roti buat merpati*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar