Tak ada yang seperti kau, tak yang seperti aku. Membaca tulisanmu di dinding langit, sambil berayun mendung. Kotakota jadi terlalu kecil, tak terdengar gemanya, lampulampu teramat jauh, tak terpandang terangnya.
Katakata sangat pudar di bawah, tak akan sempat kupungut lagi sebelum hujan mengguyur bumi, banjir menghanyutkan semua syair. Darah satusatunya merah tersisa, menetes dari lubang dadaku. Menghilang ditelan badai, belum meninggalkan jejak pada tanah. Butuh bencana menguji nyali, sampai seolah mengerti, menjadi tinggi hati sebelum mati. Tak ada yang seindah keangkuhan menara bertubuh miring, atau tembok bebal yang konon terlihat dari bulan. Mungkin aku sinting, maniak kecil, sedikitpun tak penting. Hanya hening pongah, gemar bermain dan tertawa dengan anakanak ikan di kali yang menenggelamkan kota. Tak apa.
Tak akan kusanjung satu namapun yang tak pernah membacaku. Kau terlalu mahir membakar cemburuku pada masa lalu. Aku senang badai melumatku. Aku senang segera kembali debu. Debu mengubur bukubuku, debu menunggu salju membekukan waktu*
Katakata sangat pudar di bawah, tak akan sempat kupungut lagi sebelum hujan mengguyur bumi, banjir menghanyutkan semua syair. Darah satusatunya merah tersisa, menetes dari lubang dadaku. Menghilang ditelan badai, belum meninggalkan jejak pada tanah. Butuh bencana menguji nyali, sampai seolah mengerti, menjadi tinggi hati sebelum mati. Tak ada yang seindah keangkuhan menara bertubuh miring, atau tembok bebal yang konon terlihat dari bulan. Mungkin aku sinting, maniak kecil, sedikitpun tak penting. Hanya hening pongah, gemar bermain dan tertawa dengan anakanak ikan di kali yang menenggelamkan kota. Tak apa.
Tak akan kusanjung satu namapun yang tak pernah membacaku. Kau terlalu mahir membakar cemburuku pada masa lalu. Aku senang badai melumatku. Aku senang segera kembali debu. Debu mengubur bukubuku, debu menunggu salju membekukan waktu*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar