Minggu, 16 Januari 2011

dunia

Kau roti kehidupan. Setan mengantarmu padaku, anak tuhan yang kelaparan, setelah bertapa empat puluh hari, tiga puluh sembilan malam lamanya, kurang semalam saja menjadi genap.

Tinggal sejengkal saja kau sebelum kusuap, tuhan keburu datang dan bersabda, “Anakanakku tak hanya hidup dari roti.”

Bibirku terbuka begitu dekat dengan roti, tepat saat kebimbangan menjerat, menahan lenganku di udara.

Roti menunggu mana akan kupilih, lapar atau kematian.

Setan terus mendesis dan merayu, tuhan mencoba menghentikan waktu.

“Andai aku bisa bicara, kau akan mendengar aku berkisah, aku dulu serumpun gandum di sebuah ladang di mana kau pernah datang, singgah sejenak memainkan lagulagu merdu, aku jatuh hati padamu. Tapi tuhan tak peduli pada doaku. Hingga suatu hari setan datang menawarkan cara untuk berjumpa denganmu. Kurelakan tubuhku ditebah dan digiling sampai serbuk paling halus, diolah dengan segala rasa sakit tak terkata. Dipanggang hingga matang jadi sepotong roti yang diantarkan setan padamu, kebetulan ini hari terakhir kau bertapa. Betapa hidupku akan siasia jika  kau biarkan kematianmu tak jadi milikku. Andai kau tahu betapa aku ingin menjemput maut dalam mulutmu. Andai kau tahu segala rasa sakit membakar tubuhku. Nasib yang kutempuh sama sekali tak sebanding dengan sejuk dan lembut lidahmu yang kurindu. Andai kau tahu betapa aku ingin mengenyangkanmu. Andai kau tahu…”

“Anakku, surga sudah menunggu,” Tuhan berkata, nada suaranya tenang bersahaja.

“Andai aku tahu apa ?” Aku berbisik kepada roti.

Tak bisa kulukiskan betapa girangnya aku ketika mendengar roti menjawab bisikanku, tadinya kusangka aku berkhayal karena terlalu lapar,”Kau bisa mendengarku ?”

“Katakan apalagi yang aku mungkin tak tahu ?”

“Aku mencintaimu.”
[Serasa terbang secepat cahaya, gigitanmu hangat dan lembut, harum surga nafasmu, serasa dibuai dalam nikmat tak terkira aku meluncur melewati tenggorokanmu, mendarat di lambungmu. Begitu terang dan hidup jantungmu berdenyut kencang]

Tuhan menatapku tajam, kupandang tuhan dengan gelisah, “Aku kenyang dan merasa lebih baik. Kenapa aku belum mati ?”

Tuhan membalikkan badan, melesat terbang tanpa meninggalkan jawaban.

Setan tertawa terbahakbahak, suara tawanya memantul pada dindingdinding gua, seketika semua jadi terang benderang. Gua menjelma istana. Aku sangat bingung, tak tahu benar apa yang sedang terjadi, mengapa jadi begini, sepertinya ada yang salah sekaligus indah.

“Bisakah kau berhenti tertawa, katakan apa yang terjadi, kenapa jadi begini ?”

Setan terus tertawa, lama dan keras. Nyaris tak sabar aku menunggu ketika akhirnya setan berhasil mengendalikan diri, meredakan tawanya.

“Katakan apa yang terjadi, ke mana tuhan pergi, kenapa aku tak mati?”

“Pertama tuhan pergi ke tempat di mana dia seharusnya berada. Kedua, kau harus ingat, tak ada anak tuhan yang akan mati garagara menikmati sepotong roti yang jatuh hati. Ketiga, tak ada apapun yang pantas kaucemaskan sekarang. Kau dan dunia telah saling memiliki.”

“Aku tak mengerti.”

Setan mengedipkan matanya sambil nyengir,”Tak perlu kaumengerti, nikmati saja dunia, surga cinta.”

Setan hampir berlalu, aku cepatcepat menyambar lengan jubahnya,”Jangan pergi dulu, katakan kenapa aku tak mati, setelah gagal bertapa pada malam terakhir, kau bilang ini surga?”

“Siapa bilang kau tak mati, kau anak tuhan, bisa menciptakan sendiri neraka atau surga di sini, mana saja yang kausuka.”

“Membingungkan…”

“Begitulah dunia, selamat datang.” setan mendesis keras sebelum berkelit dan meninggalkanku sendiri.

Aku tibatiba merasa ruangan indah dan terang di mana aku berada membuat dadaku sesak. Saat kurasa kehangatan dalam perutku, aku teringat pada sepotong roti yang kumakan tadi. Andai saja aku tak memakannya, tentu saat ini aku punya kawan berbincang, tak sendirian*  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar