Tak seharusnya merana hanya demi sebuah kata, luka. Jejak akan menuliskan sendiri rasa muak jadi sajak. Tak ada, apapun sebijak tuak jadi teman bicara. Kedaikedai punya dindingdinding yang bergunjing. Loronglorong punya lolongan anjing. Tapi aku, aku manusia, hanya punya rongga dada, perut, paruparu rapuh, sudah pengap asap, lambung penuh sampah.
Kelinci kecil masih riang berloncatan di sepanjang nadi, matanya saga, punggungnya lembut. Mata menyala itu bikin kuingat tentang binatang kesayangan. Burung perkasa, kekasih naga, mata naga jauh lebih besar dari mata kelinci, nafas api, bisa jatuh hati pada seekor keledai jenaka. Naga mengkhianati kekasihnya, demi keledai. Siapa saja bisa jadi pengarang, menulis naskah penuh andai. Menawarkan dongeng pengantar tidur, mungkin di pasar malam saat matahari hampir tenggelam.
Kelinci selalu lembut, matanya batu mirah delima. Keledai tetap dungu, setelah menikahi naga.Tuak membanjiri rongga dada, menghempas deras, menggenangi kepala. Naga mestinya menggendong keledai dan kelinci, segera mengungsi ke tanah tinggi, di mana kapal nubuat menanti. Tapi aku selalu tak tahu, apa saja yang melingkarlingkar dalam benak binatang.
Tak ada cermin mampu membaca di balik kulit. Seekor ulat muncul dari telinga, berlari keluar jendela, menghilang di antara tangkai bunga. Cermin masih beku manatapku, mungkin menunggu ulat jadi kupukupu*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar