Sudah lama aku lupa cara tertawa, sudah lama pula aku tak punya airmata. Bukankah itu indah, sebuah wajah pualam, berkilau, kau selalu membersihkan debu di jubahku. Aku tegak berdiri di altarmu, seperti tidur, seperti bangun, seperti hidup, seperti bingung. Cicak merambati pundakku, membisikkan kisahkisah dari bawah meja, percakapan asing dengan bahasa tanpa kata, hanya ada decak, sejuta decak atau lebih dalam sehari.
Sudah jadi nada, juga gerak lunglai, aku memandang matamu kering, handphone berdering, kabarkabar datang diantar surat kabar. Hidangan di meja setiap pagi. Gelegar halilintar, tanpa hujan, kau sedang tersesat, kehilangan satusatunya jalan menuju roma, kota sudah matang, jadi berkeping biskuit, kue kering, gertak gigi, neraka itu cuma canda, aku tertawa melihat gigimu melambai, jadi sayap capung, berserat, rapuh, tembus pandang, bergetar tanpa henti.
Terbang lincah melintasi kolamkolam, tempat wisata membutakan mata, aku terus memandang tawamu. Ekor capung melengkung menyentuh air, mencipta riak melingkar. Lampu taman juga memandang. Teratai tak peduli, terlalu jenuh pada kisahkisah perjalanan masa silam, ketika jadi tunggangan lelaki baik hati, tak tahu cara memaki.
Laut mendekat. Aku masih patung, masih teguh berdiri di atas altar, mendengar kotbah dan lagu pujian, sedang kau masih berlutut, begitu lama hingga tempurung lututmu membatu. Tak ada yang datang membantu, bab terakhir kitab suci menagih janji. Awan hitam mengulurkan tangan, meremas tubuh para pemburu. Mungkin tuhan mendengar, mungkin tuhan mendengar doa camar dan anjing laut, meratap kehilangan langit dan laut. Aku masih patung, memandang matamu kering. Suarasuara menderu, paduan suara, sanctus,sanctus dominus. Air mendidih di dapur, merebus ginjal ikan paus*
Sudah jadi nada, juga gerak lunglai, aku memandang matamu kering, handphone berdering, kabarkabar datang diantar surat kabar. Hidangan di meja setiap pagi. Gelegar halilintar, tanpa hujan, kau sedang tersesat, kehilangan satusatunya jalan menuju roma, kota sudah matang, jadi berkeping biskuit, kue kering, gertak gigi, neraka itu cuma canda, aku tertawa melihat gigimu melambai, jadi sayap capung, berserat, rapuh, tembus pandang, bergetar tanpa henti.
Terbang lincah melintasi kolamkolam, tempat wisata membutakan mata, aku terus memandang tawamu. Ekor capung melengkung menyentuh air, mencipta riak melingkar. Lampu taman juga memandang. Teratai tak peduli, terlalu jenuh pada kisahkisah perjalanan masa silam, ketika jadi tunggangan lelaki baik hati, tak tahu cara memaki.
Laut mendekat. Aku masih patung, masih teguh berdiri di atas altar, mendengar kotbah dan lagu pujian, sedang kau masih berlutut, begitu lama hingga tempurung lututmu membatu. Tak ada yang datang membantu, bab terakhir kitab suci menagih janji. Awan hitam mengulurkan tangan, meremas tubuh para pemburu. Mungkin tuhan mendengar, mungkin tuhan mendengar doa camar dan anjing laut, meratap kehilangan langit dan laut. Aku masih patung, memandang matamu kering. Suarasuara menderu, paduan suara, sanctus,sanctus dominus. Air mendidih di dapur, merebus ginjal ikan paus*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar