Jika kemarin dan hari ini berbeda, aku berani bertaruh nyawa, kau yang mendirikan sekat. Dengan tirai berwarna kabut, matamu menyala. Melelehkan musim panas pada daundaun jingga, meruntuhkan sekepal salju dari mataku. Musim semi terhidang hijau di piring, gelas tersaji hangat keemasan, badai musim gugur. Aku menulis acak, tak jenuh menebak, musimmusim yang kutata di ambang jendela. Aku mengganti topi setiap pagi, mencoba mematut gaya dengan jubahmu. Kau tertawa untuk topengtopeng yang sembunyi dari wajahmu. Aku tak perlu tahu, apa yang akan kulihat setelah kau singkirkan bukumu, cukup suara riangmu berkata, ci luk baa!
Kaubuat aku kerap tertawa*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar