Setiap pagi dan sore, sehabis mandi, ibu menyisir rambutku, panjang dan kusut. Ibu menyisir pelahan, mengurai setiap gumpalnya, bergantiaganti memakai sisir atau jari. Sisir itu bikinan ayahku, dari duri ikan terbang.
Aku tak tahu apa ibu tahu, aku suka membuat rambutku jadi sangat kusut, meminta sedikit madu dari temanku lebah, kutuang di kepala. Madu membuat rambutku lengket dan gimbal. Ketika aku mandi, hanya sekali kuguyurkan air di kepala, agar kusut dirambutku tak terurai. Aku selalu ingin ibu berlamalama menyisir rambutku. Sesungguhnya bukan cara ibu menyisir rambut yang kusuka, tapi suara ibu. Sambil menyisir rambutku, ibu selalu bicara, suaranya merdu dan bernada indah, seperti oskestra menerjang telingaku dengan lagu megah. Banyak hal dibicarakan ibuku. Aku ingin menuliskannya kalau sempat, aku berusaha mengingatnya dalam kepala. Dari semula aku tahu ibuku perempuan luar biasa.
Aku anak bungsu, empat bersaudara, perempuan semuanya, tapi kurasa akulah anak kesayangan ibu. kenapa aku bilang begitu, karena ibu selalu ada untukku setiap waktu. Kakakku sering mengeluh, mengatakan alangkah baiknya jika ibu ada setiap kali kesusahan menimpa. Aku sering bingung memikirkan mereka, bagiku ibu tak pernah kemanamana. Kakakku sering mengataiku 'pengkhayal'.
Mulanya aku tak paham arti kata ‘pengkhayal’, aku menyimpannya saja dalam hati. Aku pemalu dan tak suka bertanya, terutama tentang halhal yang tak terlalu penting. Di sekolah aku pernah belajar bahasa Indonesia, ibu guruku menyuruh kami menghapalkan beberapa pepatah, salah satunya pepatah, malu bertanya sesat di jalan, aku merasa pepatah itu dibuat khusus untukku. Sepulang sekolah, kuceritakan tentang pepatah tadi pada kakakku, “Kenapa ada seseorang yang membuatkan papatah untukku? Andai aku mengenalnya, aku mau bilang terima kasih”. Tak kusangka sedikitpun kakakkakakku malah melotot, mencibir dan lagilagi mengataiku,”Dasar pengkhayal.” Aku jadi berpikir, mending aku tersesat saja, bertanya selalu menimbulkan masalah.
Aku tak pernah bertanya pada siapasiapa apa itu ‘pengkhayal’, sampai suatu hari ibuku menjawabku. Selalu begitu, ibuku menjawab semua pertanyaan yang tak kutanyakan.
“Kau merasa ibu selalu ada di dekatmu, di manapun dan kapanpun ?”
“Iya”
“Kau selalu merasa bahagia setiap kali ibu menyisir rambutmu.”
“Hmm”
“Itulah upik, kau memang pengkhayal, seperti kata kakakkakakmu.”
“Itu tak baik ya Bu.”
“Tidak, itu seperti purnama.”
“Bulan.”
“Ya, bulan purnama, paling terang, selalu berkhayal cahaya itu miliknya. Padahal, kau tahu, bulan hanya memantulkan cahaya matahari.”
“Ohh, seperti membohongi bumi ya Bu.”
“ Tidak sama upik, berkhayal bukan berbohong. Bumi dan seluruh angkasa tahu kebenaran itu. Hanya saja bulan gemar membuat dirinya riang dan benderang. Tak apaapa kan, apa kau merasa bulan berbohong, rasakan di dalam sini.” Tangan ibu mengulur, menyentuh dadaku, lembut.
Aku menggelengkan kepala dan tersenyum senang, juga lega. Ternyata apa yang dikatakan padaku oleh kakakkakakku tak terlalu buruk seperti yang kucemaskan. Ibu masih terus menyisir rambutku dengan pelahan.
Aku merasa dalam kepalaku ada sebuah hutan pinus, udara segar, mengantar bau pinus dan pandan memasuki lubang hidungku, menyejukkan paruparu dan jantung.
“Suatu hari kelak, kau akan tahu bahwa ibu tak bisa lagi menyisir rambutmu.”
Aku tak bertanya, hanya saja tibatiba merasa sangat sedih, membayangkan bahwa aku harus melalui harihari tanpa ibu yang akan menyisir rambutku setiap kali aku selesai mandi.
“Ibu, ibu kok diam sihh..” Aku terkejut, mendengar suara merdu itu menyerbu telingaku. Aku segera kembali mengerakkan tanganku, menyisir rambut seorang anak yang duduk di pangkuanku. Aku tersenyum, tersipu malu, kakakkakakku benar sekali, aku pangkhayal, dari dulu, sampai sekarang, masih pengkhayal.
“Bu jangan diam donk, cerita lagi, please.”
Kuhela nafas dalamdalam, segara dadaku terasa luas dan sejuk, serasa kebun buah, wangi buah apel di manamana. Sesaat setelah kuhembuskan udara, kudengar suaraku berkata,”Sayang, kau harus jadi ibu bagi dirimu sendiri, sebalum jadi ibu buat anakmu, apa kau paham. Itu yang selalu dikatakan nenekmu pada ibu, dulu.”
“Hmm..Nenek…”
“Ibunya ibu.”
“Ohh, jadi ibu juga punya ibu, sama denganku ya Bu. Hihihi…”
“Semua anak pasti punya ibu.”
“Kalau ayah…”
“Ayah juga. Punya ibu.”
Anak manis dan bawel dalam pangkuanku terdiam, nampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku tak bisa menahan senyum, membayangkan apa saja yang mungkin menarinari dalam kepala kecilnya, mungkin hutan cemara, sungai coklat, ladang permen, kebun mangga, hmm bisa apa saja*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar