Senin, 10 Januari 2011

analogi

Menyusuri banyak sungai, telaga, kolam dan genangan di manamana, sepanjang pagi dan siang hari. Tak ada satupun sanggup menatap wajah matahari. Semua jernih bisa membiaskan apa saja, kecuali terang matahari.  Senja baru bisa. Tak ada yang menyadari sesuatu ketika waktu penuh. Keparat dunia, juga manusia, aku memaki semua cermin dan jendela. Mereka mencuri gambarmu diamdiam ketika aku terjaga, menjaga burungburung onta agar tak berlari mengejar pinguin kecil, mereka beda benua. Keparat dunia. Diskon sembilan puluh persen untuk dosa. Aku tidur saja, sampai topeng monyet lewat di depan rumah. Mengusik mimpi dengan tanya, siapa sedang menonton apa.

Ada ketukan pada jendela, kau rupanya, menyodorkan kantong kertas ke dadaku.

“Ini matahari, buat kau.”

Dari dalam kantong kertas merekah senyuman sekuntum bunga, besar dan kuning, matahari.

Matamu tertawa, saat kusodorkan seikat edelweiss ke dadamu,
”Ini bintangbintang, buat kau.”

Jendela menghilang, segan melihat kita*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar