Mereka bilang kau membawa pulang tempat sampah, sekantong besar, hitam, padat. Aku tak peduli. ada banyak sisasisa makanan. Berlusin kulit telur, kepala dan ekor ikan asin, tutup botol, tulang ayam, sachet bungkus shampoo. Kulit bawang, akarakar sayuran, tongkol jagung, kulit dan buji semangka, bongkol apel, daundaun pisang. Apalagi yang kurang, aku yakin masih ada yang terlewat, belum kusebutkan. Aku melihat dunia. Menguburkannya di belakang rumah. berharap suatu hari kelak tumbuh dunia baru.
Laut, kebun, ladang, bukitbukit dan hutan. Kutulis pesanku di atas pasir, biar ombak menghapusnya sesering mungkin, kutulis lagi dengan suka hati. Berlarilari di kebun, hingga pohonpohon pening, menjatuhkan buah ranum berbutirbutir, untukmu saja, semua. Kau makanlah buahnya, aku memahat namamu pada batang pohon yang nakal. Masih terbentang luas ladang jagung, untukku sembunyi, kau akan mencari, angin mengirim harum rambutku ke matamu, tak perih, kan. Burungburung hitam bernyanyi, tikus besar menulis surat kepada tanah.
Gelap waktunya pulang, rumah dalam dunia. Di atas bukit, di dalam hutan, anakanak rusa tidur nyenyak dalam gua ular atau musang, di mana saja. Gelap mengaburkan pandang. Kau memeluk pinggangku, menghitung irama, dansa. Dansa merayakan botolbotol yang bahagia menemukan tutupnya. Dari jendela dapur, kulihat pohon terang menjulang, lilin menyala di atas lelehan salju, di puncaknya bintang, kadangkadang tuhan, membagikan permen kapada anakanak lebah*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar