Senin, 10 Januari 2011

neuschwanstein castle

Apakah kau seorang pemabuk, kau harus jujur menjawab. Kau seorang tuhan. Jangan cuma bisa menuang dan mnyodorkan gelas. Aku lebih suka menenggak langsung dari botolnya, tak merepotkan orang, tak usah menunggu giliran. Aku juga heran, untuk apa kauciptakan, jika kauharamkan. Kau mirip aku, hahaha, terbalik ya, aku yang persis kau! Anakmukah? Aku tahu kau pasti jatuh cinta pada ibuku, kausimpan itu untuk dirimu sendiri. Kau membangun dunia hanya untuk perempuanperempuan gila, atau bodoh, yang memberikan sebutir buahbuah ranum kepada lelakinya, hanya garagara mendengar bujukan mahluk yang tak bisa berdiri. Aku suka mengatakan ‘yang’ pada kalimatkalimatku, itu seperti menyapamu. Siang ini donal bebek menyanyi di televisi, aku kelaparan, tanpa uang, kau tertidur. Kau selalu tidur saat aku menulis tentangmu, mungkin karena ketukan jariku merdu.

Merdu itu menciptakan rindu, berbotolbotol di atalase, berwarna macammacam. Manusia membutuhkan terlalu banyak hal untuk merasa nyaman. Aku selalu menyimpan kenangan, betapa nyaman saat telanjang. Berenangrenang dalam rahim berlendir, tak ada haus, tak ada lapar, tak ada sakit kepala dan rasa mual. Aku mendengar suara organorgan tubuh berdenyut. Duh, kenapa sedini itu, manusia sudah mengenal rutinitas. Gerak dan bunyi yang sama berulang tanpa henti. Aku tak pernah mengerti apa yang sebenarnya menari dalam senyala api. Ada bayanganmu di situ.

Tarian api begitu indah, membuatku ingin jadi serangga.  Tanpa musik, tanpa nada, seperti coretan pada kertas, tak bersuara. Aku juga bisa menggambar, coretan melingkarlingkar dengan banyak warna, rambut tuhan. Apakah ibuku pernah merapikan rambutmu, seperti menyisir rambutku, mengepang, menguncir kuda, mengikatkan pita. Jepit rambut, bungabunga, ikan, gajah, kupukupu, bola, bahkan rumah, semua bisa dipasang di kepala. Membuat aku cantik, membuatku terus mengetik. Wajahwajah hitam putih, mata kelabu, berjalan menuju kamar gas. Gas itu tak berwarna, mengantar manusia hitam putih kepada langit. Aku memang tak suka menyebut nama, tak suka belajar sejarah. Bunga mewangi tanpa perlu dipanggil. Tabung gas di dapurku kosong, tak bisa menjerang air, orangorang belum mandi.

Aku menulis pertanyaan untukmu yang lebih suka memandang bibirku. Kau tak suka airmata, padahal jernih dan indah, juga hangat. andai bisa menangis sampai memenuhi bak mandi, tentu  tak perlu menjerang air. Mandi airmata saja, konon juga membunuh kuman, meluruhkan debu. Tapi, aku butuh debudebu mengepung mataku. Suara ledakan terdengar begitu indah. Membuat api kembali menari, membuat kau kembali menyala. Dian selalu butuh terang, untuk mencipta bayangbayang. Neraka tak pernah kehabisan api. Kau akan mengantarku ke sana, setelah kutenggak habis airmata.

Puncak tebing, di mana kita akan mendirikan sebuah rumah tinggi, hingga mudah di rengkuh badai. Apakah kau seorang pemabuk, jika mencintai badai ? Kau tuhan, mencipta aku dan badai. Aku harus mengerjakan semua bagianku sambil terus menenggak botolbotol , sambil terus menari bersama api*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar