Hujan abu, cemara perak. Kutulis surat, tanpa nama, tanpa alamat, kau tak akan tersesat, burung merpati pasti menemukanmu. Kau pasti datang menjemputku.
Kau bermain di pantai, membangun istana pasir untukku. Hendak kautukar dengan rindu disobekan sajakku, ketika aku masih bisa berlari mengejar debu. Sebelum lututku berdarah, jatuh terjerat akar, terperosok lumpur,terluka lebar.Tak bisa berjalan.
Kau datang, menatap lukaku. “Tanggalkan saja kakimu,” Katamu.
Kusangka kakiku akan kauganti dengan sayap, kadangkadang kaubawa cadangan sepasang. Tapi, kau justru mendarat, melepas sayap dari punggungmu, menaruhnya sembarangan di atas lumpur. Kauletakkan tubuhku di tempat di mana sayapmu dulu melekat.
Kau mendukungku, aku khawatir kau akan lelah,” Kenapa tak kaubawa aku terbang?”
“Aku takut menjatuhkanmu. Jalan kaki lebih aman, juga lama, perlu waktu mendengar kaubacakan semua sajakmu, lagipula dengan begini telingaku jadi sangat dekat.”
“Tapi, kau tinggalkan sayapsayapmu begitu saja.”
“Aku harus mendukungmu, kau tak lagi punya kaki.”
Aku menangis.
“Kau menyesal kehilangan kaki?”
Aku memeluk lehermu lebih erat.
“Setelah sayap, kau juga ingin membuatku kehilangan nyawa?”
"Hihihi... maaf"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar