Senin, 10 Januari 2011

sirat

Jalan berbisik bahwa langkahku asing. Aku mencoba berkata, aku mengenalmu, pernah lewat sini, dulu. Aku ingat bau tanah dan batubatu di situ, kuhirup semua sewangi musim bunga di sana.  Laron beterbangan, memutari lampu jalan berderetderet, berpindah, berputar, terjatuh, terinjak sembarang roda dan langkah. Aku berjingkat, tak ingin menginjak pertapa yang sayapnya baru patah. Apalah diriku dibanding sesuatu yang berani bediam dalam seratserat kayu sepanjang waktu, demi semalam terbang mendekati cahaya.

Aku seperti mengenal jalan pulang yang telah melupakanku dan semua anakanak yang terlahir di atas trotoar. Selokan pernah mengirim sandal, hanya sebelah. Aku mengartikannya sebagai pesan untuk mencari pasangannya.  Sandal ternyata mematahkan talinya tak lama sesudah kukenakan, aku menyesal, tak banyak. Seakan sudah menduga sejak semula, hanya sandal lemah, mau meninggalkan langkah, berenang sendirian di selokan. Selokan beriak, arus kecil. Pohon di tepi jalan bergetar, menjatuhkan titiktitik air di wajah dan rambutku.  Mungkin pohon tertawa geli mendengar perdebatan dari barisan jendela di tembok kota. Atau jalan sudah mengingatku hingga pohon jadi terharu*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar