Hari hujan panjang, meneduhkanku di pinggir jalan. berdiri berjajar dengan manusia, besar kecil, berselangseling. Bukan deret atau baris yang bisa disangka. Hanya pupil mata bergerakgerak, dari kiri ke kanan lalu sebaliknya, dari bawah ke atas kemudian berbalik arah. Petir datang kadangkadang.
Seorang tua mendekat, tak tahu dari mana datang, terlihat perempuan dengan tulangtulang kokoh bersinar di balik rapuh otot. Atau lakilaki majenun yang tak takut pada rintik hujan, tak pernah membunuh, bahkan untuk seekor lalat yang sibuk berdengung, dia meneduhkan tubuh yang tak mengenal gigil. Kita berpandangan, samasama mempertanyakan sampai di mana hujan mengalir, jalam kelabu, menggiring debu.
Saling bertanya dengan diam, dengan ragu, atau gagu, hujan sepertinya tak pernah risau, tak pernah takut kehabisan rinai. Aku atau kau, juga orang tua berada dalam ruang tanpa dinding, hujan menjadi tirai, melerai setiap tanda tanya, menyekat hati, menyekat hati dengan sesat. Aku dan hujan samasama tahu, pasti banyak serangga terbunuh dalam satu cerita.
Akhirnya kau berkata, dia perempuan, pasti perempuan. Perempuan selalu mahir memainkan sunyi, meniupkannnya menjadi bunyi yang bisa tertulis kata. Mbok supi namanya, padahal dia tak bicara. Lalu kita jadi tak peduli pada manusia. Dia seperti membagikan selimut taransparan pada setiap tubuh. Tubuh yang tak pernah memandang wajahnya, tak bertanya, tak tahu dia ada, juga ketika hujan reda.
Ketika pelangi tak terlukis, mungkin matahari tak membaca warna, tak terbit cahaya. Keningnya berpendar. Dia seperti ibu dalam ingatanku, seperti kekasih dalam kenanganmu. Seperti sayapsayap yang tak pernah patah. Gelap tak pernah menghalangi terang melukis bayang, hitam putih. Jika tak ada, tak bisa mencipta apaapa. Dia mengalingi cinta dengan kain lapuk di bawah jembatan*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar