Rabu, 05 Januari 2011

bulan kertas

Aku datang dan pergi, jalan setia membentang,
batubatu kokoh menyerahkan tubuh di celah langkah.
Perang, seperti lagu, paduan suara surga.
Aku menjadi kuda, kau menari di atas punggungku.
Tangantangan bertepuk, menenggak mabuk,
kabut ungu melingkari kepala para penyeberang jalan.
Lingkaran rotan, berputar sendiri di pnggang anakanak pemetik bunga.
Kelinci dan gajah mengepakkan telinga, terbang.
Burung hantu membacakan buku.
Naga hinggap di atas atap, bulan menyala di ujung lidahnya.
Kau memanggilku, bertanya,”Sedang menggambar apa?”
“Kertas meremas, ingin jadi bulan.”
Hari ini kita main lemparlemparan bola kertas, tak terhitung,
tak ada sakit, tak ada memar, ringan.
Air mata untuk mencuci jendela*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar