Rabu, 05 Januari 2011

surat dan sajak

Kepada yang terhormat ‘langit’,  untuk kesekian kali kucoba kirimkan beberapa sajak, menanjak jalanjalan terjal menuju puncak terjulang, mohon pertimbangan untuk diterbitkan sebagai bintangbintang, sejuta atau lebih, malam nanti.

Bersama sajak ini kusertakan namaku yang dia tuliskan di sebongkah nisan, pada sebuah taman, lahir di satu musim yang belum pernah datang, tinggal dan menetap di ceruk lembah tedalam, gemuruhnya bunyi teredam sunyi, sehening selembar daun kering ketika pertama jatuh di pangkuan sungai.

Demikianlah semua ini, kukirimkan dengan penuh rekah harapan tunastunas anggur yang tak pernah dipahami tanah, merambati rantingranting segala pohon, melingkar, memanjat ke arah terang, jika ada kurang berkenan harap segera maklum, selalu ada lalai melambai bersama tumbuh musim bunga.

Hormatku kepada awan, angin dan cahaya, terima kasih untuk sedianya menerima rangkaian bait dan kata.
Kutorehkan  goresan merah paling nyala dari ujung jariku, sebagai tanda, benar aku adanya yang mengirimkan surat berlampir sajak ini, kepada semesta*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar