Senin, 10 Januari 2011

malam tahun baru

Apa kau mencari kunci nona, dia menyapaku di antara wajahwajah lusuh yang berseliweran di lorong sempit berbau amis.  Apa kau mencari kunci nona. Aku tak tahu tuan, apa aku mencari kunci, apa nona namaku.  Kami berjalan bersama beriringan, menembus punggungpunggung manusia, melewati bangkai ikan berkeranjangkeranjang, kentang, pisang, bayam, dan macammacam.  Akhirnya kami tiba di tempat lapang, meninggalkan redup dan kumuh di belakang kami, aku merasa tak ingin menengok ke belakang lagi. Tuan menggenggam tanganku tibatiba, saat dilepaskannya genggamnya kulihat sebuah koin di telapak tangan, untuk main kudakudaan, katanya. Aku ingin memeluk, dan bertanya padanya, tentang sebuah kunci yang seperti pernah kuhilangkan.

Pintu yang mana. Semua pintu sudah habis sekarang, untuk dijadikan kayu api, memasak atau menghangatkan ruang. Sedang angin berhembus begitu dingin, tanpa ada pintu pelindung ruang.

Siapa namanya, aku nona, nina, mona, luna, tina, atau pilih saja sembarang kata berakhiran na, jadikan awal sebuah kata penanda: na-ma. Mama mungkin lupa mengatakan namanya, namaku, nama tuan itu, namanama jalan, namanama kota. Haruskah menangis jika melupakan diri sendiri.

Andai aku cukup tinggi, mau jadi pramugari, menyematkan nama di sebelah kiri dada, terbang. Semua tuan dan nyonya mengenal nama hanya dengan melihat dan membaca sekilas sebuah pin persegi panjang. Pin yang baik hati, tanpa lelah mengatakan namaku kepada setiap yang ingin tahu. Tuan tersenyum, nama bukan manusia, tak bisa berkatakata dan tersenyum bahagia.

Bagaimana kau akan mencariku jika aku bukan pramugari, tak pernah terbang, tak punya pin bertuliskan namaku. Rumahku hanya punya nomor, nama jalannya sudah hilang, mungkin terseret banjir bandang yang kerap datang. Kota juga sudah berpindahpindah dalam peta, meninggalkan namanya pada bercak kertas berwarna hijau kekuningan, tak ada lagi titik merah penanda kota pada  peta.

Kudakudaan berdiri di depan swalayan, seperti kesepian, mungkin aku bisa mengajaknya bermain sebentar dengan koin pemberian tuan. Tapi seseorang berpakaian cerah mendatangiku, di dekat kudakudaan, kulihat dia berkalung kertas berlapis mika, tertulis namanya, aku tak bisa baca. Aku terlalu besar untuk main kudakudaan, katanya. Tapi diambilnya koin dari tanganku, selamat datang, selamat berbelanja. Aku memutar tubuh, melangkah menjauhi kudakudaan dan dinding kaca, tak ada lagi koin di tanganku.

Suara gemuruh menghentak dadaku, barisan drum band berderap di jalan raya. Orangorang membawa obor, sebuah lagu yang biasa kudengar di manamana, sebuah nama yang terlampau sering di sebut. Tuan tadi mengejutkanku, rambutku berdesir ketika tuan berbisik, mereka juga tak tahu namanya masingmasing. Aku menoleh ke samping kiri, kulihat barisan manusia begitu panjang, musiknya begitu kuat. Lidah api menarinari di ujung kayu, menghangatkan mata dan jalanjalan kota*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar