Semua tak paham menuliskan malam untukku setiap waktu. Aku dikejar segerombolan ular berbisa. Rumah seperti ada di sana, serupa tak ada di manamana. Darahku air payau, menggenangi muara ragu di gerbang lautmu. Kembali pada yang tak menanti. Melangkah di atas kawat bersama tongkat, berbaring datar, tongkat mencuri massa tubuhku, akal turun meniti udara, di bawah jurang nganga, ribuan telinga merayuku jatuh*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar