Senin, 10 Januari 2011

mala

Pagi menyuruhku menepi, ada banyak yang hendak memakai jalan. Impianku masih tergeletak tak karuan. Baru dikirim dari gunung ketika terang hampir datang. Celotehceloteh, uang receh, lagulagu cengeng, kita diciptakan untuk menemui semua yang terbenam, bergantian. Di sudut jalan aku melihat tubuhku merangkak bangun dari trotoar, rambut gimbal dan bibir bengkak. Merayap, kakiku terpotong jarak, jejak darah menyimpan kisah. Dan mereka mulai berdebat tentang keadilan dan hargaharga. Tubuhku mendekati seorang nenek tua, mencoba menggapai sesuatu, pengisi lambungku. Nenek tua menyeringai menaburkan segenggam garam ke wajahku.

Aku menghilang. Nenek tua beralih rupa, seorang gadis muda, berjalan di bawah bayangbayang, mendatangi lelaki bebaju zirah. Pedangpedang tumbuh dari retakan jalan. lelaki memetik sebilah yang paling tajam. Aku mendekat, menawarkan ciuman, ditukar tikaman.

Satu jam kemudian seorang manusia yang tak kukenal berjalan ke arah fajar, tangannya menggenggam sebongkah detak, menetes hangat, merah. Aku datang kepada rumah, melangkah masuk. Anakanak anjing berkerumun bersama tikus, nyamuk, lalat dan malaikat, ingin melihat lubang di dadaku, berongga dan basah. Sebotol anggur merah oplosan cukuplah, untuk membunuh kuman. Matahari tumbuh dari belahan dada.  Menenggelamkan malam dalam kepala*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar