Hanya jarak pendek dari kamar tidur ke kamar mandi, kandung kemih berdenyut. Menampung semua guyuran yang sempat tertelan, hujan di hutan, malam yang mengintip dari balik poci, kau bilang sembilan puluh ribu harganya, dengan penyaring di dalamnya, bikin kita tak perlu menelan ampas, hidup itu indah.
Ada banyak ranjau di tiap jengkal langkah, aku memanggil domba, meminjam bulunya, kau duga aku musang. Ternyata aku tiang bendera usang, penuh debu di sekujur tubuh. Aku tak bisa membeli sabun guna membasuh wajah, aku tak mau mereka ketakutan, aku tak bisa jalanjalan kalau tak naik pesawat tempur. Aku lupa, mungkin dulu aku putri jendral, suka mengunyah sandal. Aku mual. Aku mual pada kenyal lidah dalam mulutku sendiri, adakah yang mau beli. Aku akan melelang lidahku pada acara amal, malam dana bagi korban perang. Biar semua paham betapa manis kataku, betapa hangat nafasku.
Wajahmu mengapung di lantai, lantai padat, seharusnya kau menancap, bukan mengapung, berenangrenang macam katak remaja. Aku merubah diri jadi bangau putih, menjulurkan leher panjang, mematuk punggungmu, secepat kilat. Kau tertawa geli sebelum kutelan. Orangorang berdatangan dari balik dinding, dari balik tirai, bungabunga turun dari alas tidurku. Lampu mengirimkan kembali ngengatngengat yang pernah disengat cahaya. serupa menggulung benang untuk pulang kepada tulang.
Aku menabrak rak buku dalam lorong kepalaku, namanama menunjuk dan berteriak, mereka berkata aku pipis di celana. Aku tak percaya, aku memakai celana di kepala*
Ada banyak ranjau di tiap jengkal langkah, aku memanggil domba, meminjam bulunya, kau duga aku musang. Ternyata aku tiang bendera usang, penuh debu di sekujur tubuh. Aku tak bisa membeli sabun guna membasuh wajah, aku tak mau mereka ketakutan, aku tak bisa jalanjalan kalau tak naik pesawat tempur. Aku lupa, mungkin dulu aku putri jendral, suka mengunyah sandal. Aku mual. Aku mual pada kenyal lidah dalam mulutku sendiri, adakah yang mau beli. Aku akan melelang lidahku pada acara amal, malam dana bagi korban perang. Biar semua paham betapa manis kataku, betapa hangat nafasku.
Wajahmu mengapung di lantai, lantai padat, seharusnya kau menancap, bukan mengapung, berenangrenang macam katak remaja. Aku merubah diri jadi bangau putih, menjulurkan leher panjang, mematuk punggungmu, secepat kilat. Kau tertawa geli sebelum kutelan. Orangorang berdatangan dari balik dinding, dari balik tirai, bungabunga turun dari alas tidurku. Lampu mengirimkan kembali ngengatngengat yang pernah disengat cahaya. serupa menggulung benang untuk pulang kepada tulang.
Aku menabrak rak buku dalam lorong kepalaku, namanama menunjuk dan berteriak, mereka berkata aku pipis di celana. Aku tak percaya, aku memakai celana di kepala*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar