Senin, 10 Januari 2011

tautologi

Suatu hari manusia akan menciptakan manusia dari logam. Otak terlalu lembut untuk sebutir peluru, jantung mudah lumat oleh segumpal granat, lidah terlalu tipis teriris belati. Aku ingin lebih, kau ingin lebih, mereka ingin lebih. Sebuah diafragma yang bisa memuat seluruh bouldozer, masih ada tempat pada dindingdinding untuk bersandar jutaan rak, penuh botolbotol dan bukubuku.

Kita berpesta sepanjang waktu, melempar botol, membakar bukubuku, menyalakan petasan di atap rumah, menyiram luka dengan vodka. Apa artinya tubuh, utuh, segumpal daging, tak bisa menyuruh siapasiapa menulis sajak. Anakanak sekolah butuh sajak hebat. Para kekasih, pemabuk dan pelacur, semua perlu syair demi sebatang sigaret penghitam bibir. Kaca suka bibir hitam, di bawah sorot lampu, seni. Seni merajah wajah, menggambar seraut sesat.  Gigi ingin melihat luas dunia. Menjadi anak domba yang ditemukan, tak pernah hilang. Manusia suka tenggelam dalam sebuah koper.

Semua boleh tertawa, aku tak ikut berperang.

Aku pulang kepada hutan, aku perempuan, lahir dari selangkangan pohon, di saat bulan sedang jongkok merayu riak sungai.  Aku mengajari anakanak kelelawar membaca senja, sebelum tumbuh dewasa, sayapsayapnya jadi jubah, rahangnya mengincar tengkuk kerbau. Beruang menjual tas kulit buaya pada kancil. Ibuku adalah mahluk tanpa kelamin. Ayahku langit, semasa aku masih hujan, melesap dalam rahim bumi, memagut akar. Aku menumis udang, untuk anakanak kucing yang berjatuhan dari truk sampah di depan rumah. Aku ingin semua jadi berkelas, dudukduduk di tepi kolam sambil menyantap salad. Lihat, ibuku sudah melahirkan saudara, bukan cuma satu, berapa, tak ada yang tahu. Baca saja.

Semua boleh tertawa, aku tak ikut berperang.

Aku tumbuh seperti merpati, tak bisa hidup jauh dari belahan hati. Tak pernah ingkar janji. Terbang dekat lonceng, hinggap di jendela menara, berbagi rahasia pada lelehan lilin yang membeku dihembus dingin. Menekin dari balik kaca selalu menatapku iba, menawarkan bajunya. Aku tak mengerti kenapa, aku hanya unggas, bukan malaikat, tak butuh busana. Kalau saja mereka menawarkan rambutnya, bisa kujadikan sarang. Jika punya sarang, seranggaserangga akan singgah, mengantar barangbarang, lampu Kristal, piringan hitam. Aku ingin kotak musik, dengan sepasang kekasih menari, lagu sendu, mata rindu. Ini bukan jaman batu, katamu, rindu hanya pahatan pada dinding berlumut, sebentar juga ambruk, terpuruk. Mungkin rusukmu tak kurang jumlahnya, genap. Hitung saja.

Semua boleh tertawa, aku tak ikut berperang.

Ini hari keberapa sejak aku mematahkan kakimu, kau menikam lambungku. Masih di bukit tengkorak, anakanak perempuan memetik bunga di antara tulangbelulang, anak lakilaki menangkap ikan di sungai berarus merah. Kau masih menatapku, aku menunggu. Para kurcaci bernyanyi, balonku ada lima, ruparupa warnanya, tak ada yang meletus.Pesta terus berlanjut. Masih ada kayu bakar, bensin, juga minyak tanah, ujung sigaret berkelipkelip, siap membakar surga. Yesus turun dari kayu salib, mengenakan jubahnya, tersenyum mesra pada semua anak. Aku tak ikut berperang, kucoba menulis surat cinta. Semua boleh tertawa*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar