Senin, 10 Januari 2011

makan pagi

Besok, akan kutengok lagi ladangladang keemasan dalam lembarlembar usang, tak semua hangus terbakar. Apipun tak abadi, puisi, suara siulanmu di pagi hari, kecupan serupa roti bakar, melompat begitu tibatiba, pada pagi mereka. Di balik jeruji jendela, dingin bukan kiriman musim.

Bukan sebuah pagi di tepi telaga. Angin, perahu kertas, angsa, warna hijau di balik rambutmu, kincir angin kertas warnawarni. Aku menuruni bukit sebelum hari cukup terang, kupetikkan buahbuah berry liar pada semaksemak di lereng bukit. Sepelukan banyaknya. Bunga bakung menertawakanku, aku tak tersinggung, kubilang aku memang sayang padamu. Hanya saja tak punya sepatu agar bisa berjalan jauh, bukubuku itupun dibawakan elang, kau menukarnya hanya dengan selarik senyuman, kau memang tampan.

Naiklah, awan menawarkan punggungnya, kakiku telanjang, tak akan meretakkan apaapa. Sesampainya di atas bukit kaudapati kau sedang menunggu di bawah pohon randu, sepelukan embun kaudekap. Kita sarapan, buah berry liar dan butir embun, ilalang dan angin berbisikbisik, mereka memang bukan manusia. Kau menatap mataku, aku berbisik di ujung telingamu,  mereka benar kan, aku siluman. Kau nyengir, mereka nyinyir. Mereka lapar. Tapi semua sudah habis. Sepelukan buah berry liar dan embun sedang merayakan ulang tahun, dalam lambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar