Senin, 10 Januari 2011

orangorang hebat yang kujumpai di perjalanan

Aku tidak mengerti, siang ini tibatiba hujan merintik. Bunyi yang sama, tik, tik, tik, suara jemari memukuli hati, hurufhuruf menjadi pasti, menampakkan diri. Awal bulan pada akhir penanggalan. Aku tibatiba, mengingat kapan kau datang, mengenang kapan kau hilang. Penjual terompet dan topi berdatangan, berselimut plastik. Hujan siasia turun, tak bisa menyentuh setumpuk kertas warnawarni, tak bisa memakai topi, tak bisa memainkan bunyi. Mungkin hujan senasib denganku, samasama tak mengerti, kertaskertas, setegar apa akan lumat tersentuh basah. Untung orang pintar menemukan bahan pembuat plastik, bening, terompet dan topi juga tak sabar menanti, ingin main, main bersama hujan dan mereka yang bahagia meninggalkan jalan.

Sorot matamu panjang, menyusuri hampa udara dalam empedu binatang, aku, mungkin jadi pereda genuruh paruparumu. Hanya itu, hanya empedu, serbuk terbang, tercecer dari kantong peri. Salah mereka sendiri, periperi itu menertawakan jamur di kepalaku. Mahluk tanpa rusuk, aku dibikin tuhan dari gelembung. Seribu dapat tiga tube, sedotan seukuran korek api. Anakanak riang meniup rindunya selama jam  istirahat sekolah. Gelembung tak berwarna, membiaskan cahaya, tak terbatas warna. Milihat dunia. Seperti boneka beruang, lucu, lembut, menggemaskan segala usia.

Aku tak tahu wajah jenaka yang berjalan di bawah hujan menyembunyikan banyak kisah. Sesungguhnya aku tahu, perut buncitnya bukan busung lapar, hanya ada balon berteduh di balik gaun. Memikirkan rengekan manja menanti di ujung gang buntu. Rodaroda memainkan biola. Berbaris kembali dalam mataku, pelanduk kecil melompati genangan air. Untuk kuhitung, agar lelap dalam tidur. Sepenggal siang, senja menahan senyum, mengintip dari sudut paling gelap*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar