“Aku ingin menerangi langit dari kamarku.” Kasihan bintangbintang itu, terbang dalam kegelapan, seorang anak mengatakan itu dalam pikirannya. Matanya nanar menatap langit malam dari balik jendela kamarnya.
Seekor kunangkunang tanpa sengaja mendengar katakata anak kecil. Terbang mendekati telinga anak kecil.
Konon, kunangkunang adalah kukukuku manusia yang pernah hidup dan telah wafat sekarang. Kuku, bukan kuping, masa bisa mendengar. Juga bukan mulut, kenapa bisa bicara. Ahh…kau seharusnya tahu dalam cerita semua bisa apa saja.
“Kamu lucu, bintangbintang itu tak pantas dikasihani, mereka adalah bendabenda beruntung yang bisa terbang tinggi,
dengan cahayanya sendiri.” Kunangkunang berbisik pada anak kecil.
“Bintang, apa tak bisa jatuh ?”
“Mungkin tidak, atau sangat jarang, sangat langka.”
“Kasihan...”
“Kok, kasihan?”
Anak kecil nampak ragu, menggoyangkan kepalanya sedikit, menatap kunangkunang dengan matanya yang lebar dan jernih, “Iya, kasihan. Bagaimana kalau bintangbintang haus atau lapar, tak ada apaapa di langit. “
“Haha…bintang tak punya mulut dan perut, tak butuh makan dan minum. Hanya sebuah benda bercahaya yang terbang di angkasa, hampir sepanjang masa. Semua mahluk pasti senang jadi bintang, selalu dipuja karena sinarnya.”
“Hmm…apa bintang tak sekalikali bisa turun sebentar saja ?”
“Tidak, tak ada bintang butuh turun ke bumi. Memangnya kenapa, apa sih pentingnya turun ke bumi ?”
“Aku tak ingin jadi bintang, kalau tak bisa turun ke bumi.”
“Kenapa ?”
“Bagaimana kalau aku rindu ibuku, ingin ketemu dan dibacakan cerita, ingin dipeluk dan dicium. Apa bintangbintang tak punya ibu ?”
Kunangkunang terdiam, tibatiba berusaha mengingat sesuatu. Ibu*
Seekor kunangkunang tanpa sengaja mendengar katakata anak kecil. Terbang mendekati telinga anak kecil.
Konon, kunangkunang adalah kukukuku manusia yang pernah hidup dan telah wafat sekarang. Kuku, bukan kuping, masa bisa mendengar. Juga bukan mulut, kenapa bisa bicara. Ahh…kau seharusnya tahu dalam cerita semua bisa apa saja.
“Kamu lucu, bintangbintang itu tak pantas dikasihani, mereka adalah bendabenda beruntung yang bisa terbang tinggi,
dengan cahayanya sendiri.” Kunangkunang berbisik pada anak kecil.
“Bintang, apa tak bisa jatuh ?”
“Mungkin tidak, atau sangat jarang, sangat langka.”
“Kasihan...”
“Kok, kasihan?”
Anak kecil nampak ragu, menggoyangkan kepalanya sedikit, menatap kunangkunang dengan matanya yang lebar dan jernih, “Iya, kasihan. Bagaimana kalau bintangbintang haus atau lapar, tak ada apaapa di langit. “
“Haha…bintang tak punya mulut dan perut, tak butuh makan dan minum. Hanya sebuah benda bercahaya yang terbang di angkasa, hampir sepanjang masa. Semua mahluk pasti senang jadi bintang, selalu dipuja karena sinarnya.”
“Hmm…apa bintang tak sekalikali bisa turun sebentar saja ?”
“Tidak, tak ada bintang butuh turun ke bumi. Memangnya kenapa, apa sih pentingnya turun ke bumi ?”
“Aku tak ingin jadi bintang, kalau tak bisa turun ke bumi.”
“Kenapa ?”
“Bagaimana kalau aku rindu ibuku, ingin ketemu dan dibacakan cerita, ingin dipeluk dan dicium. Apa bintangbintang tak punya ibu ?”
Kunangkunang terdiam, tibatiba berusaha mengingat sesuatu. Ibu*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar