Aku menjadi baitbait dalam bukumu, tak memilih, tak menampik. Baitbait yang mengait nisan dengan langit. Jingga dan jelaga. Buku tak punya lengan, aku ingin memelukmu, mendekap wajahmu dalam kelopak mata, biar kau tak kemanamana. Sebelum kau sempat mengelak, akan kuhabiskan saja seluruh cerita dalam satu halaman. Apa pendapatmu tentang steak lidah dan segelas anggur merah, tidakkah lebih baik memotong lidahku, menyimpannya dalam toples bening untuk kau sapa saat gelisah.
Baitbait dalam bukumu menjahit lengan bajuku. Kau ingat saat aku bertarung dengan macan kumbang, berebut landak dan luwak. Ada yang bilang duri dan kotoran (aduh, harusnya ini kutulis ‘taik’, tanpa kucing, tapi betapa tak sopan untuk perempuan, maaf) harganya sangat mahal, mungkin bisa untuk membeli ijasah. Lidahku berenangrenang riang, meski sepertinya kesepian, sendirian. Kasihan. Mungkin kau mau beli ikan cupang untuk teman lidahku beradu kata. Kau bilang bisa gila. Apa gila butuh bisa. Bisa ular atau labalaba. Akan kutawarkan semua yang digelar di pasar gelap, agar kau belajar tak jadi geram saat aku tak bisa bicara. Kau sering lupa aku tak punya lidah untuk menjawab.
Aku baitbait dalam bukumu, penanda waktu dan jejakmu. Betapa. Marilah kita selesaikan semua, sebelum habis sebotol api. Bukan apaapa, aku tak punya botol cadangan. Aku takut cerita belum tamat saat aku terjaga*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar