Mungkin ini hari keenam, atau ke tujuh sejak tuhan sibuk mencipta dunia. Aku yang letih, merasakan perih di telapak tangan, kuku berujung lempung, sayatan duri di lengan. Kepalaku berdenyut senada jantung.
Kerjaku belum rampung. Ada yang mengetuk pintu. Pintu sedang berbaring di atas lantai yang berantakan, pecahan bulan, dan kepingkeping malam berserakan. Semua belum sempat dibereskan. Sepertinya penghuni rumah terlalu letih untuk merapikan ruangnya. Mungkin pula dia seorang yang ceroboh atau pemalas, enggan berbenah. Aku melangkah masuk, ragu melongokkan kepala sepintas ke segala arah, bertanya tanpa suara, ini rumah siapa, tempat apa, yang terpenting apa yang kucari di sana. Kakiku sepertinya mengijak sesuatu yang kecil dan dingin, entah apa, tapi terasa kian aneh dan sunyi.
Lantai sepertinya mulai lumer, juga sepatuku. Lumpur sejuk membasuh telapak kaki. meluruhkan duri dan debu, merah dan kelabu. Selarik terang menerangi deretan kursi. Sepertinya ada yang berlangsung tanpa sepengatahuanku, ruang meremang, menghampiri gelap. Aku melihat cahaya berpendar samar dari arah bawah, aku menginjak sebuah benda bersinar. Hampir buta, aku sempat membungkuk, menundukkan kepala, mengulurkan lengan. Ternyata sebuah bola mata, kugenggam, lingkaran hitam di dalam putih.
Mungkin karena terlalu lelah, tuhan tak merekatkan mataku dengan sempurna, untung aku menemukannya dengan menginjaknya tanpa sengaja*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar