Aku meja, berkaki empat. Sudah sering merasa begitu, tapi ini paling datar, tak bertaplak. Kau tak akan tahu meja bahagia atau berduka, meja hanya tempat, bisa di mana saja. Di ruang tamu, samping tempat tidur, di bawah komputer, ruang kelas, ruang rapat, ruang praktek, gerbong kereta. Wah, aku baru sadar kalau ternyata aku bisa ada di manamana. Memandangmu meninggalkan hatimu di bangkubangku.
Kertaskertasmu menumpuk di dadaku, atau wajah, tak ada bedanya. Tuan terlalu sibuk mencipta kesan, menuliskan pesan. Aku tak bisa merana, untung aku memilih jadi meja. Ketika kau terlelap aku memandang dari kejauhan, mimpimimpi tumbuh dari mata, telinga dan bibirmu, juga lubang hidungmu, menghembus udara biru dan merah jambu, menghampiriku. Duduk dan bersandar, bernafas pelan. Aku mendengar, tanpa telinga, melihat tanpa mata. Kau menemukan ruang yang tak berharap, datar, lebar, tak bersekat.
Kau jalanjalan, aku menyayat sedikit bagian bawahku yang tak terlihat, kujadikan kupukupu, atau kau lebih suka kunangkunang dengan cahaya berkelip. Terbang di dekat rambutmu, melayang, hening. Kau bisa berjalan sampai ujung duniaku, bisa menerjunkan diri dari tepian meja kepada bumi, tak akan luka atau mati, tubuhmu masih lelap, hanya mimpimu berderap. Kau mungkin lapar, ada beberapa roti tawar dan margarine tersedia untukmu. Atau gula dan kopi yang bisa kauseduh dangan mudah. Tak ada dahaga.
Semua benar, dogma, serupa barisan semut mencari sarang baru, kau mengoleskan kapur, melindungi makanan dari gigi runcing yang tak bisa kaulihat. Meja tak punya niat membunuh siapapun yang menginjak, semut atau kekasih, boleh menyantap roti. Berpikir bukan pada tempatnya adalah bukan meja. Semua akan baikbaik saja. Aku mencium aroma kopi dalam benakmu, kental dan sedap. Aku menyangka kau berjaga dalam mimpimu. Tak bisa bergerak walau berkaki empat, kau yang harus menggeserku, menata ulang ruangan, agar lapang. Ketika kakimu menginjak lantai, kau akan paham meja hanya sepetak sawah yang menumbuhkan nasi bukan dari benih padi*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar