Senin, 10 Januari 2011

puzzle 15

Dua hari, dua malam kita tak sempat lelap barang sekejap.  Acara gila itu, hari lingkungan hidup sedunia, sekaligus hari ulangtahun kita, ya kita, semua kisah, melelahkan. Bukan kerena semua agenda yang belum selesai, spanduk yang belum rampung, atau apapun, hanya saja kita terlalu banyak bersama. Saatsaat bersamamu selalu menguras banyak energi dan perhatian, itu yang terjadi pada mereka yang saling jatuh cinta, kata siapa; aku tak ingat. Tapi itu nyatanya. Kita saling bicara dan diam dengan segenap rasa indah. Pagi ini kau bilang, cukup, kau butuh tidur, aku sangat setuju. Kau kembali ke kopma, kamar seorang teman di mana kau numpang tinggal, aku pulang ke tempat kos, mencoba pejamkan mata. Masa bodoh tentang kuliah, waktu kita lebih berharga dibanding semua.

Tak lama, aku terjaga, ketukan keras di pintu, ada yang berkunjung. Ketua umum dan mantan ketua umum tahun lalu berboncengan motor datang, menemuiku, hanya untuk bertanya, kau ada di mana. Keduanya segera berlalu setelah kuberitahu, sebenarnya tak ingin kuberitahu mereka, tapi aku tak bisa bohong, tak tega melihat mereka sangat membutuhkanmu. Aku sedikit kesal, kalau ingat kau butuh istirahat lebih lama dari sekedar tidur selama tujuh jam.

Aku kembali ka kamar, berpikir sambil tersenyum sendiri, mengingat kau begitu penting. Ya, aku tahu itu, kau begitu penting untuk banyak orang, bukan untukku saja. Tak ada yang bekerja dan bicara macam kau, tak ada yang bisa. Beberapa kemungkinan dan pemikiran tibatiba menyusup dalam kepala, entah kenapa bisa begitu. Kurasa aku egois dengan cintaku. Kau terlalu hebat untukku, aku terlalu naïf merasa bisa jadi penting, untukmu saja. Betapa aku sedih mengingat semua kekosongan yang telah dan masih akan kita bagi. Kau terlalu bagus untukku, untuk bicara denganku, saling pandang, tertawa bersama, menangis bersama. Tak bisa kutulis dengan katakata, betapa aku merasa sangat buruk telah memilikimu untuk diriku saja. Kau kandidat ketua umum di masa datang, jika saja aku tak jadi kekasihmu. Aku minta maaf padamu, untuk setiap waktu yang kuambil, untuk setiap kata yang terucap, untuk setiap ruang hampa dalam hatimu, aku tak bisa memenuhimu. Kau bilang tak perlu, seperti kisah cinta itu, cinta tak perlu minta maaf*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar