Kukira aku telah jadi pengecut. Sembunyi di sudut, purapura surut. Padahal ombakku meronta, siang malam, menjilat selat dan teluk. Dermaga hanya mimpi karam di pinggir makam. Aku relakan malam ini menjadi pasang, melanda daratan. Rekah atau lelah kupeluk mesra, tak lagi jengah. Tapi di gerbang pagi aku kembali jadi kelinci, sungguh tak mengerti bagaimana ular melahap purnama*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar