Aku punya seloyang surga, tadi pagi kupanggang untukmu. Sekarang telah matang, terhidang di atas meja. Aku menunggu suarasuara langkah kakimu memasuki ruang, mendekat. Aku menunggu dengan rindu. Kau tak datang. Siang begitu terik.
Surga tak lagi hangat, uap sedapnya sudah habis dihembus angin. Tapi masih utuh, diam menunggu, Aku hampir tertidur, kau menyentuh mata, nafasmu selalu halus dan sejuk, seakan sengaja kausimpan segumpal hawa gunung untukku. Aku selalu senang kau datang, aku ingat tadi aku memasak surga, marilah kita makan malam.
Matahari rabah di celah gunung, langit tersipu, wajahnya menunduk, merah, kuning, jingga, ungu. Masih lebih indah pelangi, anakanak sekolah berkata. Masih lebih indah gerhana, burung kakak tua berkata. Kau berkata, mereka buta. Aku tertawa, mengunyah surga.
Kau memandangku penuh cinta, sekarang kita menikmati segelas langit malam, tanpa bintang. Hangat dan tak terlalu manis, kaubuat. Kauminta kuhabiskan segera. Agar kutemukan neraka di dasar gelas.
Ternyata neraka tak menyala, hanya sebuah lingkaran logam dangan namamu terpahat di dindingnya, neraka itu berkilau oleh sinar lampu. Serupa gigiku yang menyilaukan matamu saat aku tersenyum lebar.
Masih tersisa sepotong kecil surga di atas meja, bisa kita nikmati lagi. Boleh kusuapi kau, sambil berpikir apa yang bagus tentang neraka itu. Aku senang waktu kauseduhkan segelas langit malam lagi, di gelas yang sama, biar neraka terbenam lagi*
Surga tak lagi hangat, uap sedapnya sudah habis dihembus angin. Tapi masih utuh, diam menunggu, Aku hampir tertidur, kau menyentuh mata, nafasmu selalu halus dan sejuk, seakan sengaja kausimpan segumpal hawa gunung untukku. Aku selalu senang kau datang, aku ingat tadi aku memasak surga, marilah kita makan malam.
Matahari rabah di celah gunung, langit tersipu, wajahnya menunduk, merah, kuning, jingga, ungu. Masih lebih indah pelangi, anakanak sekolah berkata. Masih lebih indah gerhana, burung kakak tua berkata. Kau berkata, mereka buta. Aku tertawa, mengunyah surga.
Kau memandangku penuh cinta, sekarang kita menikmati segelas langit malam, tanpa bintang. Hangat dan tak terlalu manis, kaubuat. Kauminta kuhabiskan segera. Agar kutemukan neraka di dasar gelas.
Ternyata neraka tak menyala, hanya sebuah lingkaran logam dangan namamu terpahat di dindingnya, neraka itu berkilau oleh sinar lampu. Serupa gigiku yang menyilaukan matamu saat aku tersenyum lebar.
Masih tersisa sepotong kecil surga di atas meja, bisa kita nikmati lagi. Boleh kusuapi kau, sambil berpikir apa yang bagus tentang neraka itu. Aku senang waktu kauseduhkan segelas langit malam lagi, di gelas yang sama, biar neraka terbenam lagi*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar