Senin, 10 Januari 2011

puzzle 14

Malam itu, begitu banyak warna tumpah dari mata kita, tertawa tanpa henti untuk semua sebab tak berarti. Aku sempat menari di teras mesjid, berputarputar macam balerina amatir. Kubilang lantainya sejuk dan licin jadi aku harus menari, seperti tak bisa berhenti. Kau tertawa sampai perutmu terlipat, sampai tersengal kehabisan nafas. Sehabis rapat, kau masih menanti. Kau, aku dan beberapa teman berjalan menuju jembatan, warung langganan kita, jam dua dini hari. Langit penuh bintang.  Kau dan temanteman bicara tentang organisasi dan ekspedisi, aku bosan mendengar, kenapa tak bernyanyi saja, kutanya padamu. Apa sungguh penting, apa kau tahu rasa asing dan sunyi dalam sebuah ruang penuh orang? Menjadi pintar dan berbakat di antara teman dan sahabat, apakah itu hebat? Aku terlalu bawel dan cengeng, kusangka kau tak paham. Mataku basah, berjalan kian lambat, tibatiba terasa lelah. Kau pelankan langkahmu, mendekat, di sisiku, kau merapat, lenganmu menyentuh lembut pundakku, kau menundukkan kepala, berbisik hangat di rambutku, iya aku tahu. Kulihat matamu tersenyum.

Tibatiba terlintas dalam benakku, harus kusimpan semua baikbaik dalam ingatanku, tentang malam itu. Dan ribuan malam lainnya, yang mungkin kita lalui bersama. Waktuwaktu yang berlalu bersamamu selalu padat dan bersinar, permata tak ternilai harganya, tak terbeli, tak terganti*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar