Senin, 10 Januari 2011

chanson d'amour

Mencintaimu, setara membenci diriku sendiri.

Menyapu lantai kelas, penuh serpihan kertas, harus hatihati agar tak ada semut yang mati, kekasihnya akan bersedih. Aku berdiri di gerbang sekolah setiap pagi, menunggu ibu guru datang, membawakan tasnya ke dalam kelas. Kau menatapku diamdiam di bawah cemara, aku mencuri pandang. Duduk di pinggir kolam, teratai mekar, kau petik ranting untuk mengait telur katak, lendir panjang dengan bolabola hitam kecil. Aku harus jadi putri duyung, kalau kausuruh memakainya di leherku, kalung. Mutiara hitam. Awan putih, burung gagak jadi sahabat. Kau pintar menggambar, senyum  ikan nila, bibirnya luka terkena mata kail, aku tak suka memancing. Burung gelatik kecil, paruhnya belum merah, hinggap di teras mengharap remah gabah, ketika ibu menampi beras, ceritacerita pengantar tidur. Naiknaik ke puncak gunung.

Mencintaimu, setara membenci diriku sendiri.

Kampung, bunga kecubung, sawah bertingkat. Tangga istana. Ikan terbang mengejar layanglayang. Aku bertemu denganmu suatu siang, duduk  sendiri di pematang. Lamunan berpelukan, dansa pertama. Adakah yang bisa memainkan kecapi, dewi bulan sedang  tidur pulas di depan televisi. Matanya sembab, untuk sebuah kisah yang tak pernah paham. Cinta, betapa sederhana. Menendang bola, rumput basah. Belalang berloncatan di rambutku, kau tertawa, bergemagema di angkasa, perempuan desa. Dulu, waktu masih ada ibu dalam hidungku, kidung senja. Semangkuk mie kocok di malam kudus, tak cukup uang untuk beli karcis, aku bingung, masuk kandang ternak saja harus membayar. Tapi bintangbintang, berbisik, kami akan bernyanyi untuk anakmu. Ambilkan bulan, bu.

Mencintaimu, setara membenci diriku sendiri.

Kau, jangan datang, jangan beri kecupan yang membangunkan  kenyataan. Aku sedang mendekap bayangmu dalam mimpi paling jauh. Gerimis di kawah gunung berapi juga sedang bernyanyi. Bintang kecil*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar