Senin, 10 Januari 2011

puzzle 12

Pagi adalah ujung, bukan akhir, setelah melalui malam, kau tersenyum, aku melamun, duduk di depan sekret, mengawasi yang lalu lalang hendak kuliah pagi. Matamu bergerak lincah, membuatku sedikit sebal, apa sih bagusnya mereka. Mereka sudah mandi dan rapi, tak duduk di sampingku macam kau, spontan aku mengangkat tangan, mendorong bahumu keraskeras. Kau berteriak. Pagi harus dirayakan seperti malam, selama ada kau di dekatku. Hanya saja pagi hari tak punya kerlip, selain di gigimu yang kuning.

Kopma time. Berjalan bersisian, pelan, tak bergandeng tangan, menemui segelas kopi. Untukku, teh saja, kopi di tempat itu selalu membuat perutku melilit, padahal aku masih ingin menikmati waktu bersamamu. Selalu bersamamu, tak peduli belum mandi, tak risau tantang apapun. Kau punya baju andalan, yang selalu bisa diandalkan untuk tak diganti, tak dicuci, selama mungkin. Siapa peduli, aku hanya tak bisa menahan tawa dan airmata dalam waktu bersamaan saat kau mulai menyanyi, pacarku manis sedang menangis, airmatanya dibuang habis…aduh aku lupa lirik selanjutnya, tapi sungguh lucu, suaramu tak merdu. Lagu ajaib itu, tentang baju yang tipis dan bukan kue lapis. Aku tak pernah dengar lagu itu selain kau yang nyanyikan, seperti mimpi yang ingin kuulangi berkalikali, tak terhitung. Lagu yang aneh, kau tak ada duanya di bumi ini*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar