Senin, 10 Januari 2011

naskah

Mengemasi hidup dalam setumpuk kertas. Itu yang kauingin kukerjakan, serupa kaum cerdik pandai di masa lalu. Menemukan galaksi, meramal nasib, menuliskan lambanglambang pada secarik kertas. Benarkah kertas bisa mengemas semua kisah.

Kertaskertas bergambar pahlawan tersenyum ramah, sederet angka, ditukar sedikit kesenangan, mungkin sekaleng soda dingin, sekotak sigaret atau permen, sebotol api, baju dalam, bola lampu dan perjalanan. Kertaskertas mengantar orang kepada tujuan. Aku selalu ingin naik kuda, yang mengunyah rumput. Mereka yang menunggang kuda selalu nampak gagah, ditambah sebilah pedang, kecupan yang membangunkan seluruh kerajaan.

Siapa yang mengajariku membaca, aku sudah lupa, guruku atau ibuku, atau gununggunung yang menderu muak pada bangku yang cuma bisa membaca brosur perjalanan, beritaberita kematian. Seekor merak tak perlu mewarnai bulubulunya sebelum tampil di kebun binatang. Aku bertanya pada bangkai ikan kenapa paruh burung pelikan teramat besar.Hahaha...

Aku ingat, ketika aku masih sangat muda, menyusuri jalanjalan bernama gunung, bolakbalik pagi dan siang, hanya untuk memahami bahwa aku sedikit sinting. Jalanjalan tak pernah meninggi jadi gunung, serupa nama yang tertera di papan namanya. Sebuah gereja berdiri megah, patungpatung di dalamnya setia berdoa. Aku mengunjunginya setiap pagi demi melihat sepasang manusia tua renta bergandengan tangan. Aku berkata pada pohon cemara, kenapa tak kauberikan segenap salju dan lampu untuk kakek dan nenek itu. Mereka pasti sangat menyayangi musim dingin.

Darahku, kenapa kau begitu mencintai hujan, tidakkah terpikir olehmu, air akan melumatkan bukubuku, dan serangga akan melubangi halamanhalaman sejarah. Aku melihat wajahmu begitu berseri, kau pasti bangga padaku yang selalu mencintai sepenuh hati, yang selalu mencari namamu terpahat di batangbatang pohon, di batubatu, di pasir dan batu karang, di kaca jendela sehabis hujan mengirim buram udara. Kau selalu paham aku hanya anakanak yang suka meniup gelembung, dari sabun atau permen karet, mengejar bayangbayang kepala anjing yang kaucipta didinding. Kau tak menyuruhku terjaga, selain untuk melihat purnama, dan bintangbintang terbang.

Tapi kau juga berkata, belajarlah menyenangkan dunia, maka aku mulai jadi labalaba. Mengulurkan serat dari ujung jari, menyeret katakata, merajut rumah berputar, menjaring cahaya. Embun membuat lantaiku bercahaya. Begitulah labalaba menangkap mangsa, demi perutnya. Aku tertawa, kau selalu cerdas, mengagumkan, macam elang. Aku selalu ingin jadi anak ayam, untuk kaubawa terbang, tak peduli cakarmu mencengkeram tubuh, tak menghindari maut yang mengintip di balik mendung. Karena langit, melihatku terbang langit merintik, menjatuhkan hujan kepada benihbenih di bumi.

Tinggal menunggu musim berlalu, pohonpohon tumbuh, menyerahkan hidup kepada waktu, jadi peneduh, jadi paruparu, jadi bukubuku. Aku hanya ingin mengenangmu sepanjang waktu, dalam kicauan burungburung, pada gambargambar yang tak ikut terbakar*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar