Sebuah pagi biasa, terbit bersama matahari. Seseorang tak bernama, gerobak dan sapu yang sama berjalan menyusuri jejak mimpi, terang belum sempurna. Langit berwarna teduh, matahari mengirim salam, selamat jumpa kembali. Kaki melangkahi bumi, sapu menyeret debu, sampah, kertaskertas lapuk, makanan busuk, kulit telur, segenap serbuk malam dan pecahan bintangbintang. Kisahkisah berkumpul menuju satu arah, siap menempuh waktu, takdir menunggu. Pembuangan sampah, kau bisa saja lewat sambil mengernyitkan hidung, mencela, tak singgah. Harumku pasti merengkuh nafasmu, senyap.
Pernah kautitipkan segenap riang, riuh tawa, juga geram tangis paling manis. Tanpa kenal, tanpa sesal, daundaun kering memeluk hening. Menanti sentuhan sepercik api. Tak ada pasrah mengeluh resah. Api selalu mahir membakar rasa, meremuk bentuk, melepas jiwa. Nyala menghangat pagi, lidahlidah menari, mendaki langit, terbang berpendar warna. Mataku menggenangi wajahmu, bening.
Langit adalah muara. Kau, aku, bersama tiap lembar yang terbakar, adalah sampahsampah yang bahagia*
Pernah kautitipkan segenap riang, riuh tawa, juga geram tangis paling manis. Tanpa kenal, tanpa sesal, daundaun kering memeluk hening. Menanti sentuhan sepercik api. Tak ada pasrah mengeluh resah. Api selalu mahir membakar rasa, meremuk bentuk, melepas jiwa. Nyala menghangat pagi, lidahlidah menari, mendaki langit, terbang berpendar warna. Mataku menggenangi wajahmu, bening.
Langit adalah muara. Kau, aku, bersama tiap lembar yang terbakar, adalah sampahsampah yang bahagia*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar