Senin, 10 Januari 2011

enigma

Lelaki itu duduk di depan pintuku lagi malam ini. Baju kumal, celana koyak. Tubuh penuh debu, hampir selalu membungkuk, menunduk, seakan ada yang meletakkan sesuatu yang berat di bagian belakang tubuhnya.  Malam ini lelaki itu punya segulung benang kusut di tangannya. Seperti sedang bermain, lelaki itu tekun mengurai helai demi helai dalam sehelai, dua ujung belum terurai. Aku terus memandangnya, mataku perih, aku berpikir, mungkin benang itu milik ibuku, dulu. Benang yang kuambil diamdiam dari kotak jahit ibuku,  kumainkan bersama anakanak kucing dengan riang dan sembarangan, lalu terbuang, tak lagi teringat.

Aku tak ingin bertanya, apakah lelaki itu akan sakit pinggang atau ngilu punggungnya, garagara membungkuk terlalu lama. Kudekati lelaki itu, langkah tanpa bunyi, diam, ingin tahu bisakah kubantu. Lama lelaki itu tak terusik. Aku tak berani berkata. Tibatiba lelaki itu mendongakkan kepala, tak kulihat lelah pada matanya. Lelaki itu seolah sedang memandangku, serupa aku memandang malam, tak paham. Lelaki itu tertawa, aku tersentak kaget, mundur dan menjauh. Hanya sekejap saja, lelaki itu kembali membungkuk, kemudian berdiri dan melangkah pergi. Segulung benang kusut pada jemari dekil, dibawanya melangkah, meninggalkan depan pintuku.

Hanya pandang, kuikuti langkahnya, kian jauh. Hanya orang gila yang rela, kerjakan yang siasia*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar