Malam ini, aku bertemu seorang perempuan paling anggun yang pernah kulihat sepanjang usiaku. Gaunnya berwarna biru safir, berkilau mengikuti gerak tubuhnya, seolah serbuk intan sempat berhamburan ketika perempuan itu sedang berdandan. Mungkin perempuan itu tak punya cermin, mungkin perempuan itu terlalu tangkas menggerakkan tangannya hingga menjatuhkan barangbarangnya waktu terburuburu hendak keluar rumah.
Tak kulihat kakinya di balik gaunnya yang menjuntai menutupi langkahlangkahnya, juga tak kudengar suara benda beradu, macam sepatu mengetuk, hanya ada hening menyertai ayun kakinya. Perempuan itu bergerak seperti siput, seakan mengapung di permukaan bumi. Secara ajaib pula jejak langkahnya menjelma permadani, hijau cemerlang. Aku buruburu mengikuti perempuan itu, tepat di belakangnya.
Hingga akhirnya aku tahu permadani itu berumput, halus dan tebal, membenamkan kaki pada kesejukan sempurna. Menumbuhkan bungabunga, sekelompok rusa, besar dan kecil, kelincikelinci, kupukupu dan angsa. Aku tak mengerti, kota telah lenyap. Tinggal bukitbukit terhampar, hijau berselimut cahaya. Seingatku ini malam.
“Aku tak mengenal tempat dan waktu, ” Suaranya terdengar seperti bunyi seruling di lembahlembah, bergema merdu, sekaligus meringkus hati dalam rasa pilu.
“Apa kau ibuku ?” Kalimat tanya yang meluncur begitu saja.
“Apakah ibu itu ?” Aku baru menyadari bahwa matanya dalam, kelabu, hampir ungu, dan begitu lebar menerangi wajahnya.
“Perempuan yang melahirkan aku.”
Perempuan itu terdiam memiringkan kepalanya, lalu tersenyum,” Perempuan selalu melahirkan perempuan, kau boleh jadi anakku, kalau kau mau.”
“…”
“Sungguh, aku mau jadi ibumu, marilah kita berjalanjalan, sebelum turun hujan.”
Perempuan itu mengulurkan tangannya, aku menyambut, genggamannya hangat dan lembut. Kami berjalan, kembali menyusuri jejaknya yang kian luas, kota tak bersisa. Kami berdiri di atas bukit luas dan teduh, aneka bunga tumbuh, binatang bermunculan entah dari mana. Aku tertawa geli melihat sepasang anak anjing bergelut di sela rumput. Tupai berlarian dari batang pohon satu ke lainnya. Katak melompatlompat. Tempat ini sungguh aneh, tapi aku tak ingin bertanya, tak ingin menggugat sesuatu yang indah. Aku dan perempuan itu berjalanjalan sampai lama, jauh jarak tertempuh, melewati banyak kelokan, pohonpohon, dan banyak bertukar kata, percakapan yang tak bisa kuingat isinya..
Sebuah Bangku seolah juga tumbuh begitu saja, saat aku dan perempuan itu butuh tempat duduk.. Kami duduk, dia mengeluarkan keranjang berisi bekal makanan. Roti lapis berisi selai aneka buah, pasta coklat, beberapa butir permen dan sepoci teh bunga.
“Dari mana itu semua ?” Aku tercengang menatap semua bekal dan keranjang itu.
“Tentu saja aku membawanya dari rumah, kita kan belum sarapan. Ayolah makan, kau lapar kan.”
Aku tak ingat, bagaimana malam tibatiba menjadi pagi, tentu saja karena bergulirnya waktu, sekali lagi kupikir tak ada yang perlu kurisaukan. Tak ada gunanya menggugat sesuatu yang indah.
Aku mengambil setangkup roti berisi selai stroberi, menggigitnya sampai habis. Perempuan itu menawarkan sepotong lagi, berlapis selai nenas, aku tak menolak. Meneguk dengan bersemangat teh bunga dari gelas plastik yang diberikan perempuan itu. Aku melihat gaunnya, warnanya sedikit meredup, tak lagi berpendar seperti pada saat pertama kali aku melihatnya.Mungkin karena aku melihatnya pertama kali di malam hari, sekelilingku gelap, hingga gaun itu nampak bersinar terang. Aku berpikir perempuan ini pasti bukan ibuku, dan tak bisa mengerti kenapa dia mau mengaku sebagai ibuku. Sekali lagi aku memutuskan untuk tak bertanya, kenapa mesti ingin mengetahui segalanya, yang terjadi sudah cukup indah.
Kami membereskan sisa bekal yang tak habis termakan. Perempuan itu bertanya apa aku ingin jalanjalan lagi, kubilang aku masih letih, bisakah...
“Tentu, tidurkah akan kubacakan cerita untukmu, apa kau mau ?”
Aku kegirangan, meletakkan kepalaku pada lututnya, dan entah darimana pula perempuan itu mengulurkan selembat kain lembut untuk selimut, aku tak tahu pasti, dari mana harum itu tercium, dari gaunnya, selimut, atau udara yang terasa sangat ramah di situ.
Perempuan itu mulai membaca, suaranya masih semerdu tiupan seruling yang mahir. Setengah tidur, kudengar semua kisah yang dibacakan perempuan itu untukku. Kisah tentang perempuanperempuan malang yang di siksa majikanmajikan mereka, kisah tentang seorang bayi perempuan yang ditemukan dekat selokan, kisah seorang perempuan yang dibakar kekasihnya, kisah tentang perempuan kecil yang rumahnya rusak terkena lahar, dan banyak kisahkisah lain, yang semuanya hanya samarsamar kudengar.
Aku benarbenar sudah terlelap kurasa, aku bermimpi sedang berbaring di sebuah ruangan sempit berbau apek. Suarasuara teriakan dari balik dinding, di sebelah dan di depan rumah membuatku terjaga, ada pula suara gemericik keras dari perutku, dan aku mulai marasakan lagi rasa dingin dan perih dalam lambungku. Aku duduk di atas pembaringan berkasur tipis, sambil berkata dalam hati, “Kenapa selalu mimpi buruk yang sama setiap hari.”
Aku ingin terjaga dari mimpi burukku, kembali ke bangku di lereng bukit hijau, tapi mataku terasa sangat berat untuk kubuka kelopaknya. Aku teringat perempuan bergaun biru safir yang mengaku ibuku, aku merindukannya sangat, berharap dia segera membangunkan aku*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar