Senin, 10 Januari 2011

nadir

Aku mengerti bahwa setiap malam pasti akan berlalu, meninggalkan warna hitam di bawah kelopak mataku. Dan kau seakanakan baru saja pergi, atau tidur, aku tak tahu pasti. Bunyi koran pagi mendarat di teras rumah, dan suarasuara langkah ringan di jalan kecil di luar pagar, juga pertanda, pagi sudah sampai di depan pintu, di luar sana, jika tak sedang pekat oleh mendung, pasti bermandi cahaya. aku selalu menyukai keheningan itu. Sebuah tempat dengan waktu yang seutuhnya milikku. Aku tak inginkan apapun selain segelas kopi.

Segera saja aku bangkit dari tempat tidurku, berjalan menuju pintu kamar, membuka gerendelnya, lalu menekan tuas pegangan pintu. Terbuka sudah. Pagi menghambur ke arahku, menerobos pintuku, dalam sekejap segalanya terasa begitu berbeda. Aku seolah tak mengerti, kenapa malam selalu mengurungku dalam kamar.

Sebuah paragraf yang salah, baru saja aku menuliskannya di atas. Aku merasa seperti seorang pemutar film layar lebar yang menarik mundur adegan, mengembalikan cerita kepada awal mula. Seseorang yang sembunyi di balik dinding, di tempat yang lebih tinggi dari kepala semua penonton. Mengarahkan gambargambar film tepat ke layar lebar di seberang ruangan, di mana aku tekun melakukan pekerjaanku.

Aku melihat diriku duduk di sebuah kursi, meja computer di hadapanku. Layar monitor tegak sejajar kepalaku. Tanganku mengarah pada tepian keyboard, bersiap memencet tombol yang mana saja, yang saat itu kubutuhkan untuk menuliskan rangkaian huruf. Sepertinya mereka berdiri berdesakan, merapat dan masingmasing sangat menginginkan sentuhan ujungujung jari tanganku. Mataku terasa berat bukan kepalang, mendung padat bergumpal.

Kau duduk, lebih tepat di pusat ruang. Kau sandarkan tubuhmu dangan posisi pasrah, tulang dan ototmu seperti mengikuti bentuk dan sudut sofa. Terpikir olehku sejak kapan kau datang dan mau menungguku diamdiam di ruang depan, suara jernih musik berkumandang, aku mencari sumbernya, sebuah radio, sibuk memainkan lagulagu, mengoceh tentang itu dan ini. Kau terlihat pulas dibuai mimpi.

Aku sedang menekan tombol backspace pada keyboard, tak lepaslepas, lumayan lama menghapus satu paragraf panjang, itupun sambil bertanyatanya, kenapa aku harus melakukannya, menghapus tulisanku. Tapi aku terus menghapus, berlagak tahu yang lebih pantas untuk di tulis.

Kau membuka matamu pelahan, menegakkan tubuh menatapku, mengusap mata, lalu menatapku lagi. Aku tak mengerti, mungkin ini hanya adegan yang pecah berserakan di lantai rumahku, belum di sapu, padahal hari masih awal. Kau tak bertanya, kembali bermimpi. Aku merasa begitu rindu, padamu yang pernah menuliskan namaku ribuan kali, di permukaan kaca.

Aku mengangkat bahu, mencoba menggerakkan tubuhku. Aku melihat sepasang kupukupu kuning di seluruh dinding*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar