Menenun jubahmu dengan seratserat jiwaku, aku selalu ragu, akankah jadi utuh. Itu bukan bagianku, berharap, menjadi paham. Jiwa sudah benang, terang hanya genangan air, mata membiaskan cahaya buta. Patahan lidah tekun berdoa. Rahang malam gemeretak, mengunyah batang bambu sepanjang tepi sungai, api mengalir sejuk, membakar bibirbibir, berzikir di balik kain*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar