Harus berapa kali aku mati, untuk tiba di sini. Ruang tanpa sekat, dinding tanpa bayang. Memohon kepada lengan melepaskan telapak tangan, meminta telapak tangan merelakan jarijari, menari sendiri.
Hanya ngarai paling landai terlindung dari badai, menyerap hujan paling kenyang, memenuhi celah tebing dengan cahaya matahari.
Aku menangis dan bersimpuh lagi, untuk satu pusara yang sama, bunda*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar